
Dalam beberapa komunitas, muncul kesadaran untuk menyesuaikan jumlah belis agar tidak memberatkan, tanpa menghilangkan makna simboliknya. Musyawarah adat semakin ditekankan sebagai ruang dialog, bukan sekadar negosiasi jumlah, melainkan pencarian kesepakatan yang adil dan manusiawi.
Belis juga berjalan seiring dengan prinsip timbal balik. Pihak perempuan biasanya membalas belis dengan kain tenun ikat, perhiasan, atau benda adat lainnya. Timbal balik ini menjadi simbol keseimbangan dan saling menghargai dalam relasi perkawinan adat masyarakat Sumba, sekaligus menegaskan bahwa perkawinan adalah perjumpaan dua keluarga yang setara.
Ivon, seorang perempuan asal Sumba, memandang belis sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dipahami secara utuh. Menurutnya, persoalan belis bukan terletak pada ada atau tidaknya tradisi, melainkan pada cara memaknainya.
“Sebagai perempuan Sumba, saya tidak merasa dibeli. Belis justru menjadi tanda bahwa kami dan keluarga dihargai. Yang penting adalah kesepakatan dan tidak memberatkan,” ujarnya.
Selain dimensi sosial, belis juga memuat nilai sakral. Tradisi ini berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur dan tatanan adat yang diwariskan secara turun-temurun. Belis menjadi salah satu penanda identitas budaya masyarakat Sumba yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tokoh agama Sumba yang tinggal di Sumba Timur, Naftali Djoru, menegaskan bahwa belis harus dimaknai sebagai simbol kasih, penghormatan, dan tanggung jawab, bukan sebagai transaksi ekonomi. Ia menilai adat dan nilai iman dapat berjalan berdampingan apabila diletakkan dalam kerangka kemanusiaan.
“Belis tidak boleh dimaknai sebagai jual beli. Ia adalah tanda komitmen dan penghormatan yang lahir dari kesepakatan bersama. Adat yang hidup adalah adat yang mampu berdialog dengan konteks zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujar Naftali Djoru.
Di tengah arus perubahan sosial, urbanisasi, dan tuntutan ekonomi, praktik belis memang terus diperdebatkan. Namun bagi masyarakat Sumba, dialog menjadi kunci agar tradisi ini tetap dijalankan secara bijaksana menjaga nilai luhur tanpa berubah menjadi beban.
Belis di Sumba bukanlah tradisi yang beku. Ia terus dimaknai ulang sebagai bahasa penghormatan yang hidup, mengikat relasi, dan meneguhkan identitas budaya. Selama belis dijalankan dengan kesadaran, keadilan, dan kesepakatan bersama, tradisi ini akan tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat Sumba bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai nilai yang terus berjalan bersama zaman.
Yohana Djola Djoru













