blank

SEMARANG   SUARABARU.ID: Jurnalis TV   Najwa Shihab kembali menjadi sorotan publik akibat gaya bertanyanya yang dinilai tegas dan kritis dalam sejumlah wawancara dengan pejabat publik. Di berbagai platform media sosial, sebagian warganet melabeli Najwa dengan sebutan seperti “galak”, “terlalu menyerang”, hingga “nyolot”.

Label tersebut muncul seiring dengan karakter wawancara Najwa yang dikenal langsung pada pokok persoalan dan menuntut kejelasan dari narasumber. Namun, gaya komunikasi serupa yang ditampilkan jurnalis laki-laki kerap dipersepsikan berbeda dan justru dianggap sebagai bentuk ketegasan serta profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.

blank

Pengamat komunikasi menilai perbedaan respons publik ini mencerminkan adanya bias gender dalam penilaian terhadap cara berbahasa figur publik, khususnya perempuan. Di ruang publik, perempuan masih sering dihadapkan pada ekspektasi untuk berbicara dengan cara yang lebih halus, tidak konfrontatif, dan menjaga kesopanan. Najwa Shihab selama ini dikenal konsisten mempertahankan prinsip jurnalistik yang berpihak pada kepentingan publik. Melalui pertanyaan yang kritis, ia berupaya mendorong transparansi dan akuntabilitas pejabat publik atas kebijakan yang diambil.

Fenomena ini kembali memunculkan diskusi mengenai peran bahasa dalam membentuk persepsi publik serta pentingnya penilaian yang setara terhadap jurnalis tanpa memandang gender.
Teori language and gender memandang bahasa sebagai praktik sosial yang tidak terlepas dari norma dan konstruksi gender dalam masyarakat. Dalam konteks kasus Najwa Shihab, perbedaan penilaian terhadap gaya bertanya jurnalis perempuan dan laki-laki menunjukkan adanya standar ganda dalam penggunaan dan penerimaan bahasa di ruang publik.

Label seperti “galak” atau “terlalu menyerang” yang dilekatkan pada Najwa mencerminkan ekspektasi sosial bahwa perempuan seharusnya menggunakan bahasa yang lembut, suportif, dan tidak menantang. Ketika perempuan berbicara secara tegas dan kritis, gaya bahasa tersebut dianggap melanggar norma femininitas yang telah dibangun secara sosial. Sebaliknya, dalam kerangka yang sama, laki-laki yang menggunakan bahasa langsung dan konfrontatif sering kali diasosiasikan dengan ketegasan, kewibawaan, dan kepemimpinan.

Hal ini menunjukkan bahwa makna suatu gaya bahasa sangat dipengaruhi oleh gender penuturnya, bukan semata oleh isi pesan yang disampaikan.
Melalui perspektif language and gender, kritik terhadap gaya komunikasi Najwa Shihab tidak hanya berkaitan dengan persoalan jurnalistik, tetapi juga mencerminkan relasi kuasa dan bias gender yang masih kuat dalam budaya media Indonesia. Bahasa, dalam hal ini, berfungsi sebagai alat yang mereproduksi ketimpangan gender di ruang publik

Penulis  : Daffa Alghifari

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang