blank
John Herdman. Foto: dok/gettyimages

blankOleh: Amir Machmud NS

// pastilah berjuta harapan/ : kemajuan-kemajuan/ bahkan lompatan/ ketika datang orang baru/ : dengan pendekatan berbeda/ dengan hasil yang tak sama…//
(Sajak “John Herdman”, 2025)

SEJUMLAH kolega sempat bertanya, apa komentar saya tentang John Herdman, pelatih baru tim nasional Indonesia pengganti Patrick Kluivert — yang sebelumnya gagal memoles Tim Merah-Putih lolos dari kualifikasi Pra-Piala Dunia 2026?

Jawaban saya lebih ke kalimat normatif, “Pelatih baru, pendekatan baru, tentu harapan baru”.

Ya, berbeda dari ketika Kluivert menggantikan Shin Tae-yong yang dipecat oleh PSSI, penetapan nama John Herdman sejak 3 Januari lalu lebih menerbitkan harapan.

Saat Kluivert dipilih menggantikan coach Shin, muncul suara-suara pesimistis. Bukankah realitasnya STY telah memberi banyak perubahan kultural yang menyentuh tiga aspek penting sepak bola kita: etos permainan, pola hidup, dan disiplin?

Disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, tiga aspek itu menjadi titik kurang dalam budaya sepak bola kita. Dan, STY mampu menciptakan kondisi “perubahan” itu sebagai atmosfer yang betul-betul kita rasakan mewarnai selama dia menukangi timnas dari 2020 hingga 2024. Hingga kini, pemecatan pelatih asal Korea Selatan itu masih menjadi kontroversi yang belum tuntas terjawab.

Patrick Kluivert mewariskan tim yang juga merupakan kerangka konstruksi STY, yakni kombinasi para pemain diaspora dengan sejumlah pemain produk Liga Super Indonesia. Dengan “warna kental Belanda”, itu adalah pilihan — entah dinilai sebagai langkah pragmatis atau realitas diaspora –, yang telah dilakukan sejak era Shin Tae-yong.

Lalu dengan John Herdman yang pasti membawa pendekatan dan filosofi kepelatihan yang berbeda, adakah harapan baru yang diusung?

Pendekatan Taktik
Herdman adalah pelatih Kanada berpaspor Inggris dengan rekam jejak yang memberi harapan dan logis untuk dipilih. Sebelum menerima tawaran membesut Garuda, dia juga ditawari oleh Honduras untuk mengarsiteki timnas Amerika Tengah tersebut. Dia memutuskan ke Indonesia, karena tertarik dengan kontrak jangka panjang hingga ke proyek Piala Dunia 2030.

“Ini adalah soal menemukan proyek yang tepat, ada sebuah gairah dan intensitas dari fans yang bisa Anda rasakan,” kata Herdman, dikutip Canadian Press dari Toronto Star (cnnindonesia.com, 3 Januari 2026).

Rekam jejak John Herdman cukup mentereng. Dia menjadi satu-satunya pelatih yang pernah membawa tim putra-putri sebuah negara lolos ke Piala Dunia. Prestasi itu diharapkan bisa tertular pada timnas Indonesia senior dan U-23.

Timnas putri Kanada tampil di Piala Dunia 2007 dan 2011. Sejarah besar dicatat dengan secara beruntun meraih dua medali perunggu Olimpiade 2012 dan 2016.

Sedangkan timnas putra Kanada dia bawa ke Piala Dunia Qatar 2022. Sebuah momen bersejarah setelah 36 tahun tak pernah lolos, yang juga melesatkan peringkat FIFA Kanada dari posisi 77 ke 33 dunia.

Sejak usia muda, dia memilih jalur sebagai pelatih ketimbang menekuni karier sebagai pemain. Pada usia 28, dia hijrah ke Selandia Baru untuk menangani tim kelompok umur, yang menjadi pintu untuk memulai karier lebih serius. Dia mengarsiteki tim putri Selandia Baru pada 2006-2011. Sebelum memutuskan menangani Indonesia, dia melatih Toronto FC pada 2003-2024.

Pendekatan pelatih kelahiran 19 Juli 1975 itu menonjol ke taktik, manajemen pemain, dan pengembangan mental bertanding. Dia pernah dipuji sebagai tokoh di balik “Keajaiban Kanada”, mendapat apresiasi secara internasional, karena mampu membentuk kembali budaya timnas Kanada, meningkatkan profil sepak bola negeri itu secara global sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 di samping Amerika Serikat dan Meksiko.

Milla dan STY
Dalam amatan saya, di antara para pelatih asing yang berkiprah di Indonesia, terdapat sejumlah nama dengan warisan yang boleh saja disebut sebagai “real legacy”, juga sejumlah nama dengan jejak sejarah yang dirasakan secara abstrak.

Dari aspek sejarah, kita tak mungkin melupakan nama Tony Pogacnik, pelatih asal Yugoslavia yang membawa Ramang dkk menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. Juga Anatoly F Polosin, taktikus asal Rusia, yang dengan pendekatan fisik spartan membawa Ferril Raymond Hattu dkk meraih medali emas sepak bola di SEA Games 1991. Sedangkan dari sisi permainan, Luis Milla Aspas (2017-2018) dan Shin Tae-yong (2020-2024) memberi performa yang berbeda dibandingkan dengan para pelatih lainnya. Walaupun tidak memberi trofi, namun banyak catatan mengesankan dari sejumlah penampilan yang tidak terlupakan.

Jadi apakah yang diharapkan dari John Herdman?

Kontrak jangka panjang bisa diartikan bahwa PSSI memberi cukup kesempatan kepada pelatih baru itu untuk bekerja secara komprehensif, walaupun parameter hasil tetap harus dievaluasi dari waktu ke waktu, yang puncaknya nanti sejauh mana kemajuan timnas, termasuk tim U23 menuju 2030.

Taktik, manajemen pemain, dan pembinaan mental bertanding sebagai fokus kompetensi John Herdman juga akan dilihat: apakah dia mampu meningkatkan apa yang selama ini menjadi titik lemah timnas.

Tahun ini, Herdman telah dinanti agenda padat. Timnas senior akan tampil di FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada FIFA Match Day, 23-31 Maret 2026 sebagai kompetisi baru dari FIFA. Selain itu ada agenda FIFA Match Day berupa beberapa laga uji coba pada Juni, September, Oktober, dan November.

Sementara itu, Piala AFF 2026 punya jadwal baru di tengah tahun, bukan pada akhir tahun lagi, yakni mulai 25 Juli 2026. Sejak turnamen terbesar Aaia Tenggara itu digelar pada 1996, Indonesia belum pernah memenangi trofi.

Untuk FIFA Series, belum diketahui siapa saja calon lawan Indonesia. Bukan tidak mungkin ada sejumlah lawan berat dengan peringkat FIFA lebih tinggi, yang bisa menjadi peluang bagi Garuda untuk menaikkan posisi dari ranking 122 sekarang.

Tahun ini juga ada Asian Games 2026. Indonesia akan menurunkan timnas U23. Ini bisa menjadi ajang untuk memaksimalkan potensi pemain-pemain muda.

Maka akan kita lihat nanti, sejauh mana langkah-langkah yang dirancang Herdman di dalam kiprah kepelatihannya di Indonesia. Dan, itu akan terlihat dari kemajuan taktik, manajemen pemain, dan mental bertandingnya.

Yang tak boleh dilupakan, tidak berlebihan apabila nanti orang masih saja membandingkan dengan mengingat Shin Tae-yong yang sejauh ini harus diakui sebagai “pelatih kesayangan fans”.

Tentu fans akan melupakan pelatih-pelatih sebelumnya, bila John Herdman bisa memberikan yang lebih baik, lebih impresif, lebih menjanjikan…

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id