blank
Mahasiswa Udinus berhasil meraih predikat juara favorit berkat inovasi alat rehabilitasi bahu bernama Shoulder Wheel for Optimal Rehabilitation (SWOR). Foto: Tim

SEMARANG (SUARABARU.ID) –  Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025. Mahasiswa Udinus berhasil meraih predikat juara favorit berkat inovasi alat rehabilitasi bahu bernama Shoulder Wheel for Optimal Rehabilitation (SWOR).

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan riset mahasiswa mampu melahirkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.

Pada penyelenggaraan PIMNAS tahun ini, Udinus berhasil meloloskan lima tim mahasiswa dari berbagai skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menunjukkan konsistensi Udinus dalam mendorong mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi.

Salah satu tim yang mencuri perhatian adalah tim PKM skema Karya Inovatif (KI) yang mengembangkan alat SWOR dan berhasil meraih Juara Favorit di tingkat nasional.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari laman resmi Udinus pada 13 Oktober 2025, inovasi SWOR dikembangkan sebagai alat rehabilitasi bahu yang ditujukan bagi pasien pascastroke.

Alat ini dirancang untuk membantu proses pemulihan fungsi bahu pada pasien dengan kondisi hemiparese, yakni kondisi kelemahan otot pada salah satu sisi tubuh akibat stroke.

Keunggulan utama SWOR terletak pada kemampuannya menyediakan dua mode terapi, yaitu terapi aktif dan terapi pasif, yang terintegrasi dengan sistem monitoring berbasis web.

Pengembangan SWOR berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan yang sering dialami pasien pasca-stroke, khususnya keterbatasan dalam menggerakkan anggota tubuh bagian atas.

Kondisi tersebut membuat proses rehabilitasi fisik menjadi tahap yang sangat penting dalam upaya pemulihan kekuatan otot, fleksibilitas sendi, serta peningkatan kualitas hidup pasien.

Namun, di sisi lain, keterbatasan alat rehabilitasi yang tersedia kerap menjadi kendala, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.

Ketua Tim PKM, Rahayu Melani, menjelaskan bahwa alat rehabilitasi bahu konvensional umumnya hanya mengandalkan gerakan aktif dari pasien. Hal ini dinilai kurang efektif bagi pasien yang belum memiliki kemampuan untuk menggerakkan bahu secara mandiri.

Selain itu, alat rehabilitasi impor yang telah dilengkapi fitur otomatis dan sistem monitoring digital cenderung memiliki harga yang relatif mahal, sehingga tidak semua rumah sakit atau klinik mampu menyediakannya.

“Melalui pengembangan SWOR, kami berupaya menghadirkan alternatif alat rehabilitasi bahu yang lebih terjangkau, aman, serta mudah digunakan. Harapannya, alat ini dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun klinik rehabilitasi,” ungkap Rahayu.

Proses pengembangan SWOR dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahapan awal dimulai dengan identifikasi masalah dan studi literatur terkait metode rehabilitasi bahu bagi pasien pasca-stroke.

“Selanjutnya, tim melakukan perancangan konsep dan desain tiga dimensi menggunakan perangkat lunak SolidWorks. Perancangan tersebut mencakup desain rangka utama, penyangga lengan, serta penempatan motor penggerak agar alat dapat bekerja secara optimal dan aman digunakan oleh pasien,” ujar Rahayu.

Dalam tahap perakitan, tim menggunakan material aluminium profile berukuran 20×30 sebagai rangka utama alat. Material ini dipilih karena memiliki bobot yang ringan, kuat, dan tahan lama, sehingga mendukung aspek keamanan dan kenyamanan penggunaan.

Untuk menunjang sistem kerja alat, SWOR dilengkapi dengan berbagai komponen elektronik, antara lain ESP32 38 pin sebagai mikrokontroler, motor stepper NEMA 23, driver TB6600, sensor rotary encoder, serta emergency stop yang berfungsi sebagai fitur keselamatan.

Integrasi seluruh komponen tersebut memungkinkan SWOR untuk menjalankan gerakan rehabilitasi secara otomatis sesuai dengan program terapi yang telah ditentukan. Selain itu, tim juga mengembangkan sistem monitoring berbasis web yang dapat digunakan oleh tenaga medis untuk memantau aktivitas terapi pasien secara real time. Dengan adanya sistem ini, proses evaluasi terapi diharapkan dapat dilakukan dengan lebih akurat dan terukur.

Inovasi SWOR tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan prototipe, tetapi juga telah diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan pameran, salah satunya iSemantic 2025.

“Bahkan, alat ini telah diimplementasikan secara langsung di Rumah Sakit William Booth Semarang. Dalam implementasi tersebut, tim PKM bekerja sama dengan tenaga fisioterapi untuk mengevaluasi efektivitas serta kenyamanan alat bagi pasien pascastroke,” tambah dia.

Rahayu menyebut, SWOR telah digunakan dalam lingkungan rehabilitasi Rumah Sakit William Booth Semarang.

“Kami berkolaborasi dengan tim fisioterapi untuk mendapatkan masukan terkait kinerja alat serta respons pasien selama proses terapi,” tambah Rahayu.

Desain Fleksibel

Dekan Fakultas Teknik Udinus, Heru Agus Santoso, Ph.D., turut memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa. Menurutnya, keunggulan SWOR terletak pada desainnya yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Hal tersebut menjadikan alat ini lebih mudah diterima oleh tenaga medis maupun masyarakat secara luas.

“Desain SWOR memungkinkan pasien menggerakkan tangan secara perlahan mengikuti bentuk lengan dan bahu. Kami berharap alat ini dapat dimanfaatkan secara luas di rumah sakit, klinik, maupun pusat rehabilitasi untuk meningkatkan efektivitas terapi pasien pasca-stroke,” ujar Heru.

Secara keseluruhan, keberhasilan mahasiswa Udinus meraih Juara Favorit PIMNAS 2025 melalui inovasi SWOR menjadi bukti bahwa riset dan kreativitas mahasiswa memiliki peran penting dalam menjawab permasalahan nyata di masyarakat.

Ke depan, diharapkan SWOR dapat terus dikembangkan menjadi produk inovasi lokal yang kompetitif, baik secara akademik maupun komersial, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi.

Inovasi ini dikembangkan di bawah bimbingan dosen Wisnu Adi Prasetyanto, S.T., M.Eng., dengan tim mahasiswa yang terdiri atas Surya Ganang S., Farhan Nadsi Zein, Elisabet Cantika D., Rahayu Melani, dan Nurul Khasanah.

amna