blank
Ilustrasi. Reka: Sb.ID

Yohana Djola Djoru

Anak Rantau

Di kota orang ini, aku berdiri seorang diri,
menyimpan banyak rindu, namun begitu sunyi.
Langkah kaki tak pasti untuk terus melangkah,
Mengikuti cita-cita ku untuk pergi.

Hari demi hari aku lelah,
Bersama rindu yang dalam.
Di antara keributan kota ini,
Doa ibu selaluku bawa.

Makanan yang sederhana,
Kamar yang begitu sempit.
Aku harus bertahan seorang diri,
Dan selalau mengatakan kuat pada orang tua.

Rindu terasa berat, dada terasa sesak
Hati sudah tak ingin berada di kota ini.
Namun, aku Cuma bisa menangis seorang diri
Luar biasa sakit nya.

Malam- malam Panjang jadi saksi bisu,
air mata jatuh tanpa suaru.
Kupeluk harapan dalam sepi, agar esok aku masih punya tenaga.

Aku jatuh lagi, lalu bangkit kembali,
meski berkali-kali ingin menyerah.
Karena ada wajah yang selalu kutuju,
ayah dan ibu, alasan aku tetap melangkah.
Aku percaya pada waktu, pada Lelah yang tak sia-sia.
Suatu hari nanti, perjuanagan ini akan menjadi bahagia.

Aku harus kuat, aku pasti bisa membanggakan kedua orang tuaku,
Sejauh apapun aku berjuang sampai akhir,
Aku akan mendapatkan mimpi itu benar-benar ada.

Keluarga yang Jauh

Jarak mengajari kami
cara mencintai tanpa sentuhan.
Tak ada meja makan yang sama,
hanya doa yang berangkat
di jam yang berbeda.

Rumah kini hidup
di dalam suara,
di layar kecil yang memeluk wajah,
dan kabar singkat:
“jaga diri baik-baik.”

Kami saling kuatkan
tanpa saling melihat,
menitipkan rindu
pada malam yang sama,
meski langit kami berbeda

Ada hari-hari
ingin menyerah,
lalu teringat:
di tempat yang jauh,
ada nama-nama
yang selalu menyebutku
dalam doa mereka

Dan jarak
tak pernah benar-benar memisahkan,
ia hanya menguji
seberapa sabar cinta
menunggu pulang

Ayah

Ayah tidak banyak bicara,
tetapi tangannya selalu tahu
ke mana lelah harus diletakkan

Di punggungnya,
aku belajar arti pulang
meski dunia kerap keras
dan kata-kata sering terlambat

Ayah menyimpan takutnya sendiri,
menyembunyikannya di balik kerja
dan doa yang tak pernah disebutkan

Ia memilih diam,
agar aku berani.
Tak ada pelukan yang sering,
namun langkahnya selalu di depan,
menjadi jarak aman
antara aku dan runtuh

Jika hari ini aku berdiri tegak,
itu karena ayah
pernah rela membungkuk
demi aku tumbuh

Dan kelak,
bila namanya kupanggil dalam doa,
itu bukan karena ia jauh,
melainkan karena cintanya
telah menjadi jalan
yang kutempuh setia

blankYohana Djola Djoru, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UKSW asal Sumba, Nusa Tenggara Timur