Oleh Trisha Putri Priyandari
MEDIA sosial hari ini tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai ruang hiburan. Di balik video singkat dan konten ringan yang berseliweran setiap hari, terdapat proses pembentukan makna sosial yang kerap luput dari perhatian. Di ruang digital tersebut, nilai-nilai kemanusiaan dapat dibangun, dipertukarkan, bahkan diperkuat melalui praktik komunikasi yang tampak sederhana.
Momentum nasional seperti Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, 20 Desember lalu menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kebersamaan tetap relevan untuk dimaknai ulang, termasuk melalui media sosial. Di tengah arus informasi yang cepat dan budaya atensi yang singkat, kesetiakawanan sosial kerap dimaknai menjadi simbol, tagar, atau tren sesaat.
Padahal, esensi kesetiakawanan terletak pada kepekaan membaca realitas sosial dan kesediaan untuk terlibat, bahkan sekecil apa pun bentuknya. Jika digunakan secara reflektif, media sosial mampu berperan sebagai sarana penghubung antara rasa empati dan tindakan nyata, bukan hanya ruang untuk menampilkan diri.
Di tengah kebanjiran teknologi dimana konten semakin menyebar luas terdapat beberapa influencer yang memiliki kesadaran akan pentingnya nilai kesetiakawanan sosial, salah satunya melalui partisipasi mereka dalam memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional.
Beberapa influencer membangun gerakan dan solidaritas kekuatan bersama antar warga terkait bencana yang sedang terjadi dipengujung tahun 2025 yaitu adanya bencana banjir di daerah Sumatera Utara, Barat dan di Provinsi Aceh khususnya Aceh Tamiang yang menarik untuk dicermati.
Fadil Jaidi, Willie Salim, dan Vilmei adalah beberapa influencer di media sosial yang mengajak para pengikutnya menitipkan pesan untuk warga Aceh Tamiang yang terdampak bencana. Pada tanggal 10 Desember 2025, postingan Fadil Jaidi menyampaikan pesan dan ajakan kepada pengikutnya dengan mengatakan “Teman-teman, buat saudara kita di Aceh Tamiang yang sedang menghadapi masa sulit, semoga selalu diberi kekuatan dan kesehatan. Kalian tidak sendirian. Dari jauh, kami ikut mendoakan dan mengirimkan semangat. Kalau punya pesan baik, yuk titipkan di kolom komentar. Semoga hal sederhana ini bisa jadi penguat untuk mereka.”
Pesan dan ajakan tersebut terdengar sederhana, namun justru di situlah letak kekuatannya. Tidak ada nada menggurui, tidak pula dikemas secara dramatis berlebihan. Pesan yang disampaikan secara ringan dan sifatnya mengajak, bukan memaksa. Pendekatan ini membuat audiens merasa dihargai dan menentukan responnya sendiri tanpa adanya paksaan.
Dalam komunikasi sosial, pendekatan semacam ini dinilai lebih efektif karena empati lahir dari kesadaran personal dan disampaikan melalui gaya komunikasi khas anak muda, sehingga lebih mudah diterima.
Sebagai influencer dengan jutaan followers, Fadil Jaidi tentu memiliki pengaruh yang cukup besar. Setiap unggahan yang ia bagikan di akun instagram pribadinya hampir selalu memicu reaksi dari publik. Tetapi dalam postingan yang diupload Fadil Jaidi di akun media sosial instagram pada hari Rabu tanggal 10 Desember lalu, pengaruh tersebut tidak digunakan untuk sekedar menyampaikan informasi satu arah, tetapi membuka ruang agar audiens juga ikut terlibat.
Dalam unggahan tersebut, Fadil Jaidi tidak meminta donasi, tidak pula menyampaikan ajakan besar yang terasa berat. Ia justru mengajak audiens melakukan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu menitipkan suara. Kolom komentar diubah menjadi ruang perjumpaan emosional, tempat setiap orang menunjukkan dukungannya tanpa memandang latar belakang dan audiens dapat menuliskan doa, harapan dan empati bagi warga Aceh Tamiang.
Kondisi di Aceh Tamiang sendiri sangat memprihatinkan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal akibat bencana, tinggal di gubuk-gubuk darurat yang terbuat dari kayu dan terpal. Beberapa bahkan tidak memiliki baju ganti, makanan terbatas, dan fasilitas sanitasi hampir tidak ada. Anak-anak bermain di sela-sela reruntuhan, sementara orang tua berusaha bertahan dengan seadanya.
Keadaan ini membuat setiap pesan, doa dan ungkapan kepedulian yang ditulis di kolom komentar terasa begitu berarti, seolah menjadi pelipur lara di tengah kesulitan mereka. Pesan-pesan yang ditulis di kolom komentar tersebut kemudian dibacakan oleh influencer seolah menjadi suara bersama yang disalurkan lewat sosok influencer Fadil Jaidi.
Di sinilah praktik solidaritas digital terlihat bekerja. Kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan materi. Kadang, ungkapan di kolom komentar ini muncul sebagai pesan singkat, doa atau ungkapan empati yang ditulis oleh orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal. Melalui media sosial memungkinkan semua itu bertemu dalam satu ruang yang sama.
Bentuk solidaritas serupa juga terlihat dalam unggahan dari akun Instagram @willie27_ pada rentang tanggal 2 Desember sampai 12 Desember 2025 Influencer Willie Salim mengunggah (upload) postingan sebanyak 41 konten di akun instagram milik pribadinya. Dalam unggahan tersebut, Willie menampilkan sosok anak kecil dengan tatapan mata yang polos, tubuh kecil tanpa mengenakan pakaian yang berada di tengah keterbatasan dan lingkungan sekitar yang masih menyisakan jejak bencana dengan pendekatan yang emosional namun tetap manusiawi.
Narasi yang dibangun tidak berfokus pada eksploitasi kesedihan, melainkan mengangkat cerita tentang ketangguhan, harapan dan semangat hidup yang tetap menyala di tengah situasi sulit. Anak-anak dalam unggahan itu digambarkan bukan semata sebagai korban, tetapi sebagai simbol daya tahan manusia, bahwa bahkan di tengah banjir dan kehilangan masih ada senyum kecil, keberanian dan harapan akan hari yang lebih baik.
Respons audiens pun menunjukkan rasa empati bersama yang kuat, influencer Willie Salim berhasil mengarahkan emosi audiens bukan pada rasa iba yang pasif, tetapi pada empati aktif. Hal ini terlihat jelas dari respons warganet di kolom komentar yang dipenuhi doa, dukungan moral, serta keinginan untuk turut membantu masyarakat terdampak banjir di Aceh Tamiang. Dengan demikian, unggahan Willie tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi bencana, tetapi juga sebagai medium penggerak kesadaran sosial.
Sementara itu, influencer Vilmei juga menunjukkan pola komunikasi solidaritas yang serupa melalui unggahannya di akun instagram @vilmei yang menarasikan proses keberangkatan dan kepedulian terhadap korban bencana. Dalam postingan yang diunggah di akun milik pribadinya pada tanggal 2 Desember sampai 16 Desember 2025 dapat dipandang sebagai bentuk praktik solidaritas yang konsisten dan apa adanya.
Dalam berbagai postingan, Vilmei tidak sekedar menampilkan hasil akhir dari bantuan yang disalurkan, tetapi juga menarasikan proses keberangkatan, interaksi dengan warga, serta situasi lapangan yang penuh keterbatasan. Narasi ini membangun kesan bahwa kehadirannya di Aceh Tamiang bukan untuk mencari sorotan personal, melainkan untuk berbagi rasa dan menunjukkan kepedulian secara langsung.
Vilmei menempatkan dirinya bukan sebagai figur yang lebih tinggi, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan keprihatinan. Pendekatan ini memperkuat kesan bahwa solidaritas bukanlah milik kalangan tertentu, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat diwujudkan oleh siapa saja, termasuk melalui media sosial.
Jika dicermati lebih jauh, praktik ini merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan Fadil Jaidi, Willie Salim, dan Vilmei tentang wajah baru kesetiakawanan sosial di era digital. Solidaritas tidak selalu diwujudkan dalam bentuk aksi besar yang terorganisasi secara formal, melainkan juga melalui narasi empati, keterlibatan audiens dan penciptaan ruang aman untuk saling menguatkan.
Media sosial dalam konteks ini berperan sebagai sarana yang menghubungkan kepedulian personal dengan kesadaran bersama. Dalam perspektif ilmu komunikasi hal ini adalah bagian dari konsep interaksi simbolik. Timbulnya makna sosial bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, tetapi melalui proses interaksi simbolik antarindividu. George Herbert Mead menjelaskan bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang dikonstruksikan melalui bahasa, simbol dan interaksi sosial.
Di media sosial, unggahan video, penggunaan bahasa yang digunakan oleh influencer dan kolom komentar merupakan “Bahasa” yang berfungsi sebagai simbol sosial yang dipahami secara bersama oleh para pengikutnya. ungka
Nilai yang ditunjukkan Fadil Jaidi, Willie Salim, dan Vilmei dan para penggiat konten di media sosial (influencer) yang peka terhadap isu sosial sejalan dengan semangat Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. HKSN yang diperingati setiap 20 Desember yang bukan sekedar seremonial tahunan semata, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali makna kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan Fadil Jaidi, Willie Salim, Vilmei dan influencer influencer menggambarkan bentuk nyata dari kesetiakawanan sosial di era digital ala generasi muda. Melalui unggahan sederhana, nilai-nilai kemanusiaan dapat hidup kembali dan menular ke ribuan orang lain di dunia maya serta menjadi bukti bahwa semangat tolong menolong kini menemukan wadah baru di media sosial, tempat di mana empati bisa menyebar hanya lewat satu klik.
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional akhir dari kesadaran bersama untuk peduli dan berbagi, tanpa memandang siapa dan dari mana kita berasal.
Trisha Putri Priyandari Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro













