TALUKA Devanahalli merupakan salah satu Distrik Bangalore, di India Selatan. Di daerah ini terdapat sebuah desa kecil bernama Solur dengan orang-orang yang menjalani keseharian mereka dengan ritme yang tenang dan damai.
Penulis beruntung, karena mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan India, dan beberapa hari tinggal di tempat ini. Desa Solur berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan Devanahalli dan kurang lebih 45 kilometer dari ibu kota Distrik Bangalore.
Menurut Sensus 2011, kode lokasi atau kode Desa Solur adalah 625306. Desa ini mencakup total luas geografis 272,29 hektar (https://villageinfo.in/karnataka/bangalore-rural/devanahalli/solur.html).
Meskipun cukup dekat dengan daerah ibu kota namun suasana desa masih sangat terasa. Jalan di setiap gang yang sebagian besar masih menggunakan tanah dan rumah-rumah sederhana yang bersampingan membuat masyarakat setempat saling akrab satu sama lain. Di balik keheningannya, di desa ini pertanian masih menjadi sumber penghidupan utama bagi setiap keluarga dan gotong royong pun masih sangat erat diantara mereka.
Rutinitas mereka sehari-hari antara lain bagi kaum anak-anak di pagi hari beramai-ramai berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki namun beberapa dari mereka berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, sedangkan para orang tua berangkat ke ladang masing-masing menggunakan otto (salah satu kendaraan seperti motor namun beroda empat yang bisa memuat lebih dari lima orang).

Warga setempat menggunakan bahasa Kannada dalam berkomunikasi sehari-hari. Masyarakat yang berada di desa sangat ramah dan sangat toleran satu sama lain sehingga membuat suasan terasa semakin damai.
Di pusat desa ini terdapat beberapa bangunan tempat ibadah antara lain gereja untuk kaum umat Kristen dan Katolik, temple untuk kaum Hindu dan Budha, serta mushala untuk kaum Muslim.
Suster Janne, warga setempat dalam suatu perbincangan berkata, suasana yang amat indah terasa di desa ini, yaitu tentang kehidupan toleransi beragama. “Meskipun rumah ibadah saling berdekatan satu sama lain namun kami tidak pernah merasa terganggu atau tidak pernah merasa terbeban melainkan kami tetap terbuka untuk saling menghormati,” ujar dia.
Meski desa ini dikenal sebagai salah satu desa yang sudah mulai berkembang namun tak dapat dipungkiri bahwa tak ada orang miskin yang menjerit dan memohon bantuan dari pihak pemerintahan.
Ketika kabut tipis terbentang luas dan fajar mulai menyingsing udara dan embun pagi yang sangat dingin masih asiek menyelimuti tanah dan pepohonan yang mengelilingi sebuah gubuk kecil yang tengah tertutup oleh kabut.
Gubuk itu bukan terbuat dari bata yang mengkilat atau dari kayu yang mahal, melainkan terbuat dari sobekan karung yang kumuh dan lusuh. Atapnya sangat rendah, tanahnya sangat keras dan lubang-lubang dinding yang menganga membuat angin dan embun pagi bebas masuk tanpa penghalang.
Di sinilah terdapat sebuah keluarga yang tengah kedinginan. Bapak dan Ibu itu memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun. Sang ibu mencoba menghangatkan tubuh anaknya dengan pelukan yang sangat erat dan penuh cinta. Sedangkan sang ayah tengah menyalakan kayu api untuk menghangatkan tubuh mereka bersama-sama.
Matahari mulai muncul dengan warna khasnya sehingga membuat mereka semakin hangat membuat sang ibu mulai berjalan kesana dan kemari untuk membereskan gubuk dan menyiapkan sarapan khas mereka yang sangat sederhana yaitu chapati, dosa (makanan khas India untuk sarapan) dan segelas air putih.
Sedangkan sang anak kecil itu tengah asyk mengobok-obok air di dalam sebuah ember hitam yang kelihatan bahwa itu merupakan salah satu permainan yang sangat ia nikmati. Meskipun tak semewah anak-anak kaum konglomerat yang mungkin tak akan pernah mengalami permainan seperti anak kecil tersebut.
Hidup dalam kemiskinan membuat sang ayah harus berjuang sepanjang hari untuk menghidupi keluarganya dan bertahan hidup dalam segala keterbatasan yang mereka alami selama ini ini.
Meskipun mereka berasal dari kasta rendah (Sudra) namun itu bukan berarti mereka tidak memiliki semangat dan daya juang untuk menjalani hari-hari mereka.
Mereka tak mendapatkan perhatian atau bantuan khusus dari pemerintahan, tetapi semangat semangat hidup keluarga kecil ini tak pernah padam. Karena mereka memiliki prinsip bahwa selagi kami tidak mencuri harta dan milik orang lain maka kami juga tidak akan pernah takut untuk berjuang.

“Meskipun gerbang kesuksesan kami masih terasa sangat jauh namun kami akan terus berharap dan tetap percaya bahwa suatu saat kami akan tiba pada gerbang kesuksesan itu selagi kami berusaha dan terus berjuang,” ujar Suster Mary Vijaya, yang melayani warga di kawasan gubuk itu dengan air mata belrinang.
Sebagai manusia biasa, kata dia, terkadang rasa takut akan masa depan anak kami terasa sangat menyedihkan karena kemungkinan besar anak-anaknya tidak akan pernah mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya.
“Namun bagi kami untuk bisa mendapatkan makan sehari saja, kami sudah sangat bersyukur,” Suster Mary Vijaya.
“Kami sangat berharap agar pihak pemerintahan dapat memperhatikan desa kami terutama untuk membuat jalan-jalan di desa ini sehingga semakin memudahkan akses kami baik ke kota maupun ke desa-desa lain. Selain itu kami juga sangat berharap agar pemerintahan dapat mengatasi kemiskinan yang masih merajalelah di kalangan kami,” ujar Suster Mary Vijaya.
Clarissa Martina Yovita Fallo













