blank
FKUB Provinsi Jawa Tengah bersama Polda Jateng gelar dialog kebangsaan dalam rangka menjaga kondusifitas di wilayah Jawa Tengah menjelang perayaan Nataru. Foto: Ning S (SUARABARU.ID)

“Perbedaan bukan ancaman, namun sumber kekuatan untuk membangun solidaritas, gotong royong, dan kohesi sosial masyarakat. Nataru membuka ruang kerja sama sosial antarumat beragama dalam menjaga keamanan dan kenyamanan ibadah,” ujarnya.

Jika tidak dikelola dengan baik, lanjutnya, keragaman dapat memicu gesekan akibat provokasi, hoaks, dan politisasi identitas.

Prof Imam menyebut, jelang Nataru, peran aparat negara adalah menjamin keamanan dan kenyamanan. Negara dan aparat berkewajiban memastikan seluruh warga dapat menjalankan aktivitas dan ibadahnya dengan aman, dan tertib.

Sementara dalam perannya, tokoh agama harus bisa menjadi contoh nyata dalam praktik toleransi beragama, baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam kegiatan keagamaan. “Sikap-sikap moderat yang ditunjukkan seperti keadilan, toleransi dan cinta kasih dapat menjadi inspirasi bagi umat beragama lainnya,” tuturnya.

Selain itu, tokoh agama juga dapat mendorong umat beragama untuk lebih memahami dan menghargai perbedaan serta menghindari sikap ekstrem atau intoleransi.

“Mereka mampu memberikan penjelasan dan nasehat yang mendorong terciptanya kerukunan antarumat beragama. Tokoh agama juga berperan sebagai mediator atau fasilitator dalam penyelesaian konflik antarumat beragama,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, seluruh perwakilan tokoh agama juga mendekalrasikan imbauan FKUB Jateng jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2025.

Ning S