blank
Pelatihan mengukir oleh siswa SLTA di Jepara. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Pelestarian budaya lokal, termasuk seni tradisi, mengukir, membatik dan sejarah lokal Jepara efektif jika dilakukan pada saat anak berada pada tingkat pendidikan dasar untuk menanamkan rasa cinta dan minat anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua DPRD Jepara Drs H. Junarso dalam wawancara khusus Selasa (16/12-2025)  seputar semakin ditinggalkannya seni tradisi oleh anak-anak.

blank
Wakil Ketua DPRD Jepara, Drs H. Junarso

Namun  Junarso mengingatkan, sebelum masuk ke jenjang pendidikan, keluarga memiliki peranan yang sangat mendasar dalam menanam dan merawat cinta budaya kepada putra-putrinya. “Ada beberapa tips yang bisa dilakukan mulai mengenalkan budaya kepada anak melalui media, mengenalkan berbagai seni tradisi, permainan dan makanan  tradisional, cerita – cerita sejarah dan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Junarso.

Selanjutnya menurut Junarso, pelestaran budaya lokal melalui sekolah  menjadi langkah penting dalam menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. “Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan, termasuk cinta terhadap budaya sendiri,” ungkapnya. Di sinilah peran sekolah menjadi strategis untuk menghadirkan budaya lokal ke dalam ruang-ruang pendidikan secara aktif dan kreatif, tambahnya

blank
Siswa SMAN 1 Donorojo saat mengikuti kegiatan Kelas Pelajar Mengukir. Foto: Hadepe

“Pelestarian budaya di sekolah bukan semata-mata menyanyikan lagu daerah atau mengenakan baju adat saat perayaan tertentu. Lebih dari itu, pelestarian ini harus masuk dalam keseharian siswa, mulai dari pembelajaran tematik, praktik seni, hingga pembiasaan sikap yang mencerminkan nilai-nilai budaya daerah,” tutur Junarso. Dengan demikian  siswa tidak hanya tahu budaya lokal secara teoritis, tetapi juga memaknai dan menjadikannya bagian dari identitas mereka, tambahnya

Ia menjelaskan,  pelestarian budaya lokal di sekolah juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang bangga terhadap warisan leluhur. “Budaya yang lestari akan memperkuat ketahanan sosial, identitas nasional, dan keunikan Indonesia di mata dunia. Ketika siswa mengenal dan mencintai budayanya sejak dini, maka mereka akan menjadi penjaga budaya yang tangguh di masa depan,” tegas Junarso

blank
Siswa SD ketika mengikuti pelatihan mengukir. Foto: Hadepe

Junarso menegaskan, sekolah adalah ruang pembelajaran yang sistematis dan terstruktur. Di sinilah anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam masa tumbuh kembang. “Karena itu, pelestarian budaya lokal di sekolah memiliki dampak besar terhadap pola pikir dan sikap siswa. Budaya tidak lagi dianggap kuno atau usang, melainkan sebagai sesuatu yang hidup dan relevan,” urai Junarso

Melalui integrasi kurikulum menurut Junarso sekolah dapat menanamkan nilai budaya lokal dalam pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, hingga Seni Budaya. Misalnya, siswa bisa belajar tentang cerita rakyat lokal, menulis puisi berbahasa daerah, atau mempelajari tarian tradisional sebagai bagian dari penilaian praktik.

Sedangkan bentuk implementasinya pelestarian budaya lokal di sekolah dapat dilakukan melalui aktivitas secara kreatif melalui ekstrakurikuler kesenian daerah, kegiatan tematik budaya, pojok budaya di perpustakaan atau kelas, yang memuat informasi tentang adat, bahasa daerah, dan sejarah lokal serta  kolaborasi dengan seniman lokal, untuk menghadirkan praktik langsung kepada siswa, seperti membatik, mengukir,  membuat kerajinan tangan, atau belajar tembang macapat. “Kegiatan ini membuat budaya lokal tidak sekadar dipelajari, tetapi dialami langsung oleh siswa dalam suasana menyenangkan,”pungkanya

Hadepe