WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo, menyatakan, institusi kepolisian senantiasa terus berupaya memperkuat pelayanan yang ramah disabilitas. Yakni dengan meningkatkan aksesibilitas ruang pelayanan publik, dan menyesuaikan layanan berbasis kebutuhan khusus.
Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, semalam, mengabarkan, penegasan Kapolres tersebut disampaikan Jumat (5/12/25), berkaitan dengan gelar potensi disabilitas yang dilaksanakan di Pendapa Kabupaten Wonogiri.
Dalam gelar potensi Disabilitas 2025, jajaran pemerintah bersama dan Forkopimda, termasuk di dalamnya Polres Wonogiri, menegaskan komitmennya untuk mewujudkan Wonogiri sebagai kabupaten Inklusif. ”Inklusi adalah kerja bersama, dan Polres Wonogiri siap menjadi bagian penting dari upaya ini,” tegas Kapolres AKBP Wahyu Sulistyo.
Gelar potensi disabilitas di Pendapa Kabupaten Wonogiri tersebut, diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional Tahun 2025. Kegiatan yang mengsusung tajuk Semangat Inklusi Bagi Penyandang Disabilitas ini, berlangsung hangat, meriah,dan penuh pesan kemanusiaan.
Acara ini dihadiri oleh Bupati Setyo Sukarno, Kapolres Wahyu Sulistyo bersama jajaran Forkopimda, Ketua Pengadilan Agama, Sekda FX Pranata, Staf Ahli Bupati, para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Juga dihadiri para camat se-Kabupaten Wonogiri, Pimpinan dan Direktur Badan Usama Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), para Direktur Rumah Sakit (RS), Perwakilan Akademisi, serta Organisasi Penyandang Disabilitas.
Kegiatan ini diawali dengan menyanyikan bersama Lagu Kebnagsaan Indonesia Raya. Dimeriahkan dengan sajian kesenian yang dibawakan perwakilan kaum disabilitas, yakni tari-tarian dari para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Baturetno. Acara dirangkai dengan penganugerahan gelar Bapak Difabel Wonogiri, dan launching Perpustakaan Inklusi, serta penyerahan berbagai bantuan maupun penghargaan kepada sahabat difabel.
Dua Sayap
Kepala Sekolah Tinggi Negeri Raden Wijaya Wonogiri, Dr Sulaiman, menegaskan, penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasih. Pelayanan inklusi membutuhkan dua sayap untuk terbang. Yakni kepedulian yang tulus, dan penghormatan pada martabat serta kapasitas setiap individu. ”Dengan dua sayap inilah, kita memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggalkan,” tegas Dr Sulaiman.
Lebih lanjut, Sulaiman, menekankan tentang pentingnya budaya aksesibilitas dan partisipasi bermakna dalam perumusan kebijakan. Memberikan peluang kerja yang setara, serta kolaborasi lintas sektor, demi memperkuat komunitas inklusif.
Kapolres AKBP Wahyu Sulsityo, memberikan penghargaan kepada keluarga, guru SLB, relawan dan para pendamping yang terus mendukung anak-anak serta penyandang disabilitas. “Semangat dan keteguhan mereka adalah inspirasi. Mereka adalah kekuatan yang memberi warna bagi kemajuan Wonogiri,” tutur Kapolres.
Dalam sambutannya, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menegaskan, penyandang disabilitas adalah bagian penting pembangunan daerah. “Panjenengan (kalian) semua bukan beban. Panjenengan adalah kekuatan. Bukan pihak yang harus dikasihani, tetapi mitra pembangunan yang memiliki potensi dan mimpi yang sama,” tandas Bupati Setyo Sukarno.
Bupati mengapresiasi perjuangan orang tua, guru SLB, relawan dan para pendamping yang selalu setia menjadi tiang harapan. Pemkab Wonogiri, terus memperkuat layanan dan kebijakan ramah disabilitas, mulai dari peningkatan akses fasilitas umum, bantuan alat bantu, asistensi sosial, pelatihan keterampilan, hingga pembinaan usaha.
“Masyarakat inklusif adalah rumah tempat setiap orang diterima bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kemanusiaannya,” tegas Bupati Setyo Sukarno. Sebagai pucuk pimpinan di Kabupaten Wonogiri, Setyo Sukarno, mengajak seluruh pihak bergandeng tangan mewujudkan Wonogiri sebagai kabupaten inklusif dan berkeadilan.(Bambang Pur)













