blank
Seusai jumenengan di Watu Gilang Sitinggil Karaton Surakarta sebagai PB XIV, kemudian KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendro Mataram atau yang memiliki nama kecil GPH Purbaya, melakukan prosesi kirab agung naik kereta kencana.(Dok.Ist)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (15/11/25) kemarin, telah menggelar jumenengan nata binayangkare (upacara naik tahta) Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono (PB) XIV. Upacara adat karaton Mataram Islam di Solo ini, digelar di Watu (Batu) Gilang di Siti Hinggil (Sitinggil). Watu Gilang, diyakini memiliki kandungan misteri aura mistis.

Disebut misteri mistis, karena keberadaannya erat berkaitan dengan pada hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman spiritual, gaib, atau supernatural yang tidak dapat dijelaskan oleh logika atau akal manusia biasa. Watu Gilang diyakini sakral dan memiliki kekuatan gaib, karena itu setiap waktu tertentu, Abdi Dalem Karaton senantiasa memberikan bunga sesaji.

Berkaitan jumenengan, Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat KGPH Drs Dipokusumo MSi, melalui surat bernomor: 263/PK KKSH/XI/2025, mengundang para Abdi Dalem tinimbalan sowan (diminta datang). Keperluan, untuk melaksanakan tugas hanyengkuyung hajad dalem jumenengan dalem nata binayangkare (upacara naik tahta) SISKS PB XIV.

Siapa yang naik tahta ? Yakni putra bungsu PB XIII KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendro Mataram atau yang memiliki nama kecil GPH Purbaya. Yang bersangkutan, sebelumnya telah mengukuhkan dirinya sebagai raja baru di Keraton Solo. Pengukuhan dirinya, sebelumnya telah dilakukan Rabu (5/11/25) lalu, sesaat menjelang pemberangkatan jenazah PB XIII untuk dikirabkan menuju pemakaman Raja-raja Mataram Islam di Astana Pajimatan, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Adik mendiang SISKS Pakubuwono (PB) XIII, KGPH Benowo, kepada awak media di Solo, menyatakan, ikrar penobatan di Watu Gilang, merupakan prosesi naik tahta yang sakral dan tidak boleh dibuat main-main. Sebab Watu Gilang tersebut, merupakan batu yang diwariskan turun temurun di Keraton Solo dan diletakkan di Sitinggil. Batu tersebut, dipercaya ada sejak kerajaan Majapahit.

“Sinuhun yang ini, sudah mengikrarkan diri menjadi pengganti Pakubuwono XIII. Di sini, di Watu Gilang dan bukan di tempat lain. Jadi kalau mengucap sumpah di Watu Gilang, itu bukan main-main,” ujar Gusti Benowo sembari menantang siapa saja yang merasa menjadi raja Keraton Solo untuk berani bersumpah di atas Watu Gilang.

Saki Mati

“Kalau berani di sini ya mangga (dipersilahkan), berarti taruhannya itu tadi, bila tidak kuat akan sakit atau mati. Nyawa taruhannya, itu tidak main-main, lihat saja kalau tidak percaya,” jelas Gusti Benowo. Semua Raja selalu berikrar di atas Watu Gilang. Bukan di Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, atau di Dalem Ageng Probo Suyoso. ”Resminya ya di Watu Gilang ini,” jelasnya.

Ia pun mempersilahkan bila KGPH Hangabehi atau Mangkubumi yang beberapa waktu lalu mengikrarkan diri sebagai PB XIV, untuk sama-sama bersumpah di atas Watu Gilang. Namun demikian, Gusti Benowo, menegaskan, apabila nekat melakukan hal tersebut maka pihak yang mengikrarkan diri harus menanggung resiko. “Kalau ada apa-apa ya tanggung sendiri,” tandasnya.

Untuk diketahui, muncul dua sosok Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai pengganti PB XIII. Pertama, putra bungsu PB XIII, KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendro Mataram atau yang memiliki nama kecil GPH Purbaya.

Kedua, KGPH Hangabehi atau Mangkubumi yang merupakan putra sulung PB XIII. Yang penobatannya digelar di H-2 menjelang jumenengan Gusti Purbaya, berlangsung di Sasana Handrawina. Dilakukan oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo yang diketuai adik Pakubuwono XIII, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, yang menobatkan KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV. Diawali sungkem pada Mahamenteri Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPHPA) Tedjowulan.

Terlepas dari dinamika kemunculan dua Raja PB XIV, keberadaan Watu Gilang memang melegenda. Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, di Kota Gede Yogyakarta ada situs Cagar Budaya Watu Gilang peninggalan Panembahan Senapati Abad XVI-XVII. ”Yang menurut legenda, dikenal sebagai tempat duduk (singgasana) Panembahan Senapati (Danang Sutawijaya) sebagai Tokoh Pendiri Dinasti Mataram Islam Tanah Jawa,” ujarnya.

Watu Gilang Kota Gede, berwarna hitam gelap layaknya batuan Andesit. Berukuran empat persegi panjang, masing-masing sisinya sepanjang 2 Meter (M) dan memiliki tebal 30 CM. Yang pada salah bagiannya (sisi timur), ada cekungan (dekok) yang diyakini itu muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir Wanabaya, saat atur sungkem (sembah). Ini menjadi tipu muslihat untuk membunuh Ki Ageng, karena dianggap musuh, meskipun telah menjadi menantu (memperistri Rara Pembayun, putri Panembahan Senapati). (Bambang Pur)