blank
Muh Khamdan dalam sharing inspirasi di Coffee Morning Badiklat Hukum Jateng, Senin (3/11/25). Foto: Dok Badiklat Hukum Jawa Tengah

SEMARANG (SUARABARU.ID) — Suasana aula Pusparaja Badiklat Hukum Jawa Tengah, Senin (3/11/2025) pagi, dipenuhi semangat dan senyum optimistis. Dalam kegiatan Coffee Morning yang dihadiri seluruh pegawai dan pejabat manajerial, widyaiswara Badiklat Hukum Jateng, Dr. Muh Khamdan, menyampaikan motivasi inspiratif bertajuk “Resiliensi sebagai Jalan Menuju Robust ASN 2030.” Dalam paparannya, Khamdan menekankan bahwa resiliensi adalah daya tahan batin yang melampaui sekadar ketabahan. Resiliensi merupakan kemampuan untuk menjadikan tekanan sebagai peluang tumbuh dan bertransformasi.

Menurut Khamdan, ASN yang tangguh tidak diukur dari seberapa sering ia terhindar dari kesulitan, tetapi dari seberapa cepat ia bangkit setelah terjatuh. Dunia kerja birokrasi, katanya, memang sarat tekanan sebagaimana target yang tinggi, dinamika kebijakan, dan perubahan teknologi yang cepat. Namun di situlah, resiliensi menemukan maknanya. “Justru dalam penderitaan, potensi kita diuji dan diaktifkan. Turn on your power in pain, nyalakan kekuatanmu di tengah tekanan,” ujar Khamdan dengan penuh penekanan.

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks ASN, resiliensi berarti kemampuan untuk mengolah tekanan menjadi energi positif. ASN yang berdaya tahan tidak memandang beban sebagai penghalang, tetapi sebagai bahan bakar untuk perbaikan dan comeback yang lebih kuat. “Kinerja ASN yang berorientasi hasil tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari keberanian menghadapi ketidakpastian,” tambahnya. Bagi Khamdan, resiliensi adalah inti dari profesionalitas ASN masa depan. ASN yang tidak mudah patah, tetapi mampu belajar dan berinovasi dari setiap keterbatasan.

blank
Suasana aula Pusparaja Badiklat Hukum Jawa Tengah, Senin (3/11/2025) pagi, dipenuhi semangat dan senyum optimistis. Foto: Badan Diklat Hukum Jawa Tengah

Kegiatan yang berlangsung interaktif itu juga menjadi ruang refleksi spiritual. Khamdan mengutip pesan lintas agama yang meneguhkan pentingnya daya tahan batin dalam menghadapi ujian hidup. Dari Islam, ia menyebut ayat populer, “Fa inna ma’al ‘usri yusra” (QS Asy-Syarh: 6), yang berarti “Sesungguhnya, setelah kesempitan akan datang kelapangan.” Menurutnya, ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan dorongan agar manusia melihat kesulitan sebagai pintu pembelajaran. “Ketika hati kita menerima tekanan dengan ikhlas, ruang untuk kebijaksanaan pun terbuka,” ujarnya.

Dari ajaran Kekristenan, Khamdan mengutip Roma 5:3–4: “Penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan.” Ia menjelaskan bahwa penderitaan di dunia kerja bukan kutukan, melainkan proses pembentukan karakter. “ASN yang tahan uji akan menemukan pengharapan baru, bukan karena beban berkurang, tapi karena jiwanya menjadi lebih kuat,” katanya, membuat ruangan hening sejenak dalam suasana reflektif.

Lebih lanjut, Khamdan menegaskan bahwa resiliensi juga merupakan bagian dari nilai budaya kerja ASN, yaitu BerAKHLAK, khususnya pada dimensi adaptif. ASN adaptif, katanya, adalah mereka yang mampu bertransformasi tanpa kehilangan integritas. “Adaptif bukan berarti menyerah pada perubahan, tapi berani memimpin perubahan dengan nilai-nilai yang kita yakini,” tegasnya. Ia mencontohkan bagaimana ASN dapat mengubah sistem kerja yang rumit menjadi lebih efektif melalui kreativitas dan kolaborasi.

Bagi Khamdan, resiliensi juga mencakup kemampuan untuk menemukan makna di balik malang. Tekanan kerja, keterbatasan sumber daya, bahkan konflik internal birokrasi, semuanya bisa menjadi laboratorium pembentukan karakter. “Setiap tekanan adalah pesan untuk menemukan cara baru berpikir, cara baru melayani, dan cara baru bertumbuh,” tuturnya. Ia menambahkan, ASN yang resiliensinya tinggi akan menjadikan penderitaan sebagai cermin pengembangan diri, bukan sebagai alasan untuk menyerah. “Inilah pengalaman berharga dari eco traveller ke Ibukota Nusantara di Kalimantan Timur beberapa waktu sebelumnya” jelas Khamdan.

Para pegawai yang hadir tampak antusias dan terinspirasi. Beberapa di antara mereka mengaku mendapatkan energi baru untuk menghadapi dinamika pekerjaan. “Coffee Morning yang inspiratif di awal pekan, membuat kami sadar bahwa kesulitan bukan akhir, melainkan awal dari versi diri yang lebih kuat,” ujar Aziis Yamasita, salah satu pegawai dengan penuh semangat. Momentum Coffee Morning itu pun berubah menjadi arena berbagi refleksi tentang cara bangkit dari kegagalan dan menjadikan setiap beban sebagai jalan menuju kematangan profesional.

Di akhir sesi, Khamdan mengingatkan bahwa menuju Robust ASN 2030, tantangan akan semakin kompleks. ASN dituntut tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga kuat secara mental dan spiritual. “Resiliensi adalah otot batin yang harus terus dilatih. Tanpa itu, kompetensi lain tidak akan bertahan lama,” ucapnya. Ia menegaskan bahwa ketangguhan ASN adalah benteng terakhir birokrasi dalam menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan pelayanan.

Kegiatan yang berlangsung hingga menjelang siang itu ditutup dengan refleksi bersama oleh Kepala Badiklat, Rinto Gunawan Sitorus. Aura kebersamaan terasa kuat di Aula Pusparaja. Di antara aroma hidangan dan minuman, terselip senyum yang mengembang. Terselip tekad baru untuk menjadikan resiliensi bukan sekadar kata motivasi, tetapi gaya hidup ASN sejati. Seperti pesan Muh Khamdan, “Robust ASN 2030 bukan sekadar visi, tapi perjalanan panjang untuk terus bangkit, belajar, dan melayani dengan hati yang tahan uji.”

Hadepe