blank
Siswa SMA 1 Tahunan saat mengunjungi kebun buah di Tendosksari Tahunan.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Sebanyak 108 siswa SMA Negeri 1 Tahunan Jepara tampak bersemangat melangkah menuju sebuah kebun luas di Bukit Tendoksari, Desa Tahunan. Bukan untuk piknik atau sekadar jalan-jalan, melainkan untuk belajar sesuatu yang sering dilupakan generasi muda masa kini: menanam, merawat, dan mencintai bumi tempat mereka berpijak.

blank
Program Ketahanan Pangan mulai dilirik oleh warga Tendoksari.

Sejak pagi, jalan desa yang biasanya lengang mendadak ramai. Ratusan siswa mengenakan seragam olahraga, sepatu lapangan, dan membawa botol air. Ada yang bercanda, ada yang tampak gugup, tapi semua menyimpan rasa ingin tahu. Di tangan mereka ada cangkul kecil, bibit tanaman, dan semangat besar untuk belajar dari alam. Langkah kaki mereka menuju RT 1 dan RT 2 RW 06 terasa seperti parade kecil menuju masa depan hijau Jepara.

Kegiatan itu merupakan bagian dari Project Kokurikuler Adiwiyata yang diusung oleh sekolah dengan tema “Praktik Baik untuk Bumi Lestari.” Bagi para siswa kelas XI tahun ajaran 2025–2026, ini bukan sekadar tugas proyek biasa. Mereka diajak mengenal kehidupan dari sudut yang lebih membumi mengenal tanah, menyentuh daun, dan menyadari bahwa alam bukan hanya latar belakang kehidupan, melainkan bagian dari diri manusia itu sendiri.

Setibanya di lokasi, pemandangan kebun itu membuat siapa pun yang datang terdiam sejenak. Hamparan hijau di tengah panas yang menyengat, diapit hamparan sawah padi yang menguning, menghadirkan rasa syukur. Kebun Bukit Tendoksari ditanami berbagai jenis buah-buahan: alpukat, durian, jambu kristal, sawo, jambu air, hingga kedondong. Udara hangat bercampur dengan aroma tanah dan daun segar, menciptakan suasana yang damai sekaligus hidup.

Dari semua tanaman, alpukat menjadi primadona di kebun ini. Varietasnya pun beragam seperti; Miki, Aligator, dan Kiendil. Masing-masing punya karakteristik unik. Ada yang berbuah cepat, ada yang tahan cuaca ekstrem, ada pula yang buahnya besar dengan rasa lembut. Para siswa pun antusias ketika dijelaskan cara membedakan jenis-jenisnya dan bagaimana cara merawat agar berbuah lebat. Mereka belajar bahwa setiap tanaman, seperti manusia, punya cara tumbuh dan berjuang yang berbeda.

Kebun ini tidak hanya sekadar ladang buah, melainkan ladang kebersamaan. Ia berdiri dari kerja gotong royong warga sekitar. Pengelola utamanya adalah Endro Hadiyanto, Wakil Ketua RW 06 sekaligus koordinator pertanian BUMWE 06, bersama Hariyanto, Ketua RT 02 yang aktif mendorong warganya untuk bercocok tanam. Mereka tak sendiri ada juga M. Hendrik, Direktur BUMWE (Badan Usaha Milik RW 06), juga turut menanamkan jiwa wirausaha pertanian di tengah masyarakat.

Sebagian lahan kebun juga merupakan tanah wakaf Masjid Syuhada’ yang diberikan oleh keluarga almarhum H. Yasin, sosok guru dan kepala sekolah SDN Tahunan 02 yang dikenal berdedikasi pada pendidikan. Lahan itu berada di ujung selatan, berbatasan langsung dengan sungai suk-sukan yang menjadi pemisah alami antara Desa Tahunan, Langon, dan Sukodono. Sungai itu kini menjadi saksi bagaimana semangat pendidikan dan pertanian menyatu dalam satu ruang hidup.

Suasana kegiatan begitu hangat. Meski panas tak kenal ampun, wajah-wajah muda itu tampak berseri-seri. Mereka mendengarkan dengan saksama penjelasan tentang cara pembibitan, pembuatan pupuk alami dari kotoran hewan, hingga teknik perawatan tanaman dengan mengurangi bahan kimia. Di sela-sela itu, tawa pecah setiap kali ada yang salah mengaduk pupuk atau kebingungan menanam bibit. Namun dari tawa itu lahir pelajaran besar tentang kerja keras dan kesabaran.

Di sisi lain kebun, beberapa siswa mencoba menggali tanah dan menanam bibit sendiri. Keringat mengalir di wajah mereka, tapi tidak ada yang mengeluh. “Ternyata capek banget ya, Pak!” ujar salah satu siswa sambil tertawa. Namun setelah melihat hasilnya bibit kecil yang tegak di tanah basah rasa lelah itu berubah jadi kebanggaan. Ada kepuasan tersendiri melihat sesuatu tumbuh karena kerja tangan sendiri.

Menurut Suhartono, Ketua RW 06, edukasi pertanian seperti ini harus terus dilanjutkan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar tanahnya. “Anak muda harus tahu dari mana makanan berasal. Mereka harus tahu bahwa setiap buah, setiap sayur yang mereka makan adalah hasil kerja panjang, bukan instan, sehingga jangan sampai menyia-nyiakan apalagi membuang makanan walau hanya satu suapan” ujarnya.

Ia juga menyinggung program nasional Makan Bergizi (MBG) yang sedang digalakkan pemerintah. Menurutnya, makan bergizi bukan sekadar soal gizi tinggi, tapi juga soal kemandirian pangan. “Bayangkan kalau semua rumah di Jepara menanam, meski hanya satu atau dua pohon produktif, betapa besar dampaknya. Kita tidak perlu bergantung dari luar, karena kebutuhan bisa dipenuhi sendiri,” tambahnya.

Para siswa pun diajak merenungkan makna dari setiap pekerjaan yang mereka lakukan hari itu. Mereka memahami bahwa mencintai alam bukan hanya menanam, tapi juga merawat dan menghargai prosesnya. Seperti halnya pohon alpukat yang membutuhkan tujuh bulan dari bunga hingga buah siap panen, lalu harus diperam lagi selama seminggu sebelum layak disantap semua butuh waktu, perhatian, dan ketulusan.

Dalam kegiatan itu, para siswa juga belajar bagaimana pupuk alami dari kotoran kambing bisa menjadi sumber nutrisi yang luar biasa bagi tanaman tanpa harus mencemari lingkungan. Mereka menyadari bahwa alam sesungguhnya sudah menyediakan segala yang dibutuhkan, hanya perlu diolah dengan bijak tanpa keserakahan.

“Kita ingin mereka mencintai bumi, bukan sekadar tahu teori lingkungan,” ujar salah satu guru pendamping. “Kalau mereka pernah menanam sendiri, mereka akan lebih menghargai makanan. Mereka akan sadar bahwa membuang makanan berarti membuang kerja keras banyak orang.” Kalimat itu membuat suasana hening sejenak, seolah semua siswa merenungkan arti sebenarnya dari sebuah nasi di piring mereka.

Di akhir kegiatan, tim BUMWE 06 Tendoksari tahunan memberikan kejutan kecil: 30 bibit murbei dibagikan gratis kepada para siswa. Murbei dipilih karena mudah tumbuh di berbagai kondisi dan cepat berbuah. Para siswa tampak senang menerima bibit itu, seolah sedang membawa pulang harapan kecil untuk mereka tanam di rumah. “Tanam di halamanmu, rawat dengan cinta, biar kamu punya pohonmu sendiri,” ujar Endro Hadiyanto, penggerak kegiatan sambil tersenyum.

Setelah kegiatan berakhir, langit Jepara yang sejak pagi membara perlahan berubah. Awan menggumpal, angin berembus lembut, dan tak lama kemudian hujan turun deras. Hujan sore itu terasa istimewa, seolah menjadi tanda restu dari langit. Tanah yang tadi mereka cangkul kini basah oleh air hujan, menyatu dengan keringat dan semangat mereka yang masih membara.

Di bawah guyuran hujan, siswa yang telah pulang dengan membawa bibit. Mereka memandangi lahan sekitar rumahnya yang kini berkilau oleh air, merasakan aroma tanah basah yang harum, dan mungkin diam diam berjanji dalam hati untuk menanam murbei, ditanam sepenuh hati seperti saudara sendiri. Hujan itu menjadi penutup yang manis hadiah alam bagi anak-anak yang telah belajar mencintai bumi.

Rabu yang diawali dengan panas membakar akhirnya berakhir dengan kesejukan yang menyentuh jiwa. Dari kegiatan sederhana itu, lahir kesadaran besar bahwa mencintai bumi berarti mencintai hidup sendiri. Menanam bukan hanya soal buah yang bisa dipetik, tapi tentang harapan, keberlanjutan, dan kehidupan yang tumbuh bersama alam.

Dari kebun kecil di Bukit Tendoksari, Jepara belajar tentang masa depan. Tentang anak-anak muda yang tidak takut kotor, yang berani berpeluh untuk bumi, dan yang memahami bahwa perubahan besar selalu dimulai dari tangan-tangan kecil yang mau menanam. Di tengah dunia yang serba cepat, mereka memilih melambat menyentuh tanah, menanam bibit, dan membiarkan alam mengajari arti ketulusan. Rabu yang panas pun berubah menjadi hari yang penuh makna, tempat semangat hijau tumbuh subur di hati generasi baru Jepara.

ua