
“Jangan sampai merusak alam. Kita hidup dari alam semesta, dari bumi yang kita pijak. Jangan serakah,” tegas Agus Priyadi.
Tak hanya dikenal sebagai pematung, Agus Priyadi yang punya nama panggilan Dedy juga seorang pelukis. Namun, ekspresi seninya lebih banyak ia tuangkan melalui pahatan. Ia percaya setiap orang memiliki gaya masing-masing, dan patung adalah jalur utama perjalanannya.
Sebagai kakak kandung Menteri Imigrasi dan Perlindungan Aparatur Sipil Negara (Imipas) Agus Andrianto, Dedy tetap memegang filosofi hidup sederhana.
Agus Priyadi mengibaratkan hidup seperti laba-laba dan orong-orong, makhluk kecil yang tetap mampu bertahan dengan segala keterbatasan.
Selaras dengan Alam
“Dulu, dengan gaji sebulan harus bisa cukup untuk tiga puluh hari. Dari situlah saya belajar membangun jaringan dengan kolektor, seniman, pecinta barang antik, komunitas jeep, bonsai, hingga dunia jual beli dan tukar tambah. Orang hidup harus bisa menghadapi berbagai situasi, baik di dalam tanah maupun di luar. Jangan menyerah, jalani sesuai nurani, dan jangan sampai mengecewakan orang lain,” ungkap Agus Priyadi.
Hasil karya Agus Priyadi, tak hanya dikenal di dalam negeri. Melalui tangan para kolektor dan pembeli, patung-patung karyanya telah menembus pasar internasional hingga ke Amerika Serikat, Eropa, Kanada, Selandia Baru, Belgia, dan Austria.
Lewat ribuan karya yang telah ia hasilkan, Dedy ingin meninggalkan warisan nilai, bahwa seni bukan hanya untuk dinikmati secara visual, melainkan juga sarana edukasi, spiritualitas, dan perenungan tentang pentingnya hidup selaras dengan alam serta mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati.
“Saat ini, fokus mengerjakan dua patung kuda dengan ukuran tinggi 2,5 meter dan lebar 1,5 meter. Proses pengerjaan sudah mencapai sekitar 80 persen,” ujar Agus Priyadi.
Kudnadi Saputro













