Oleh: Amir Machmud NS
// jangan simpulkan ini pembuangan/ bukankah kepindahan bisa menjadi terapi/ ruang baru untuk introspeksi/ dan unjuk diri/ menemukan yang lepas/ memainkan yang seharusnya bisa mereka mainkan…//
(Sajak “Dinamika Pemain Pinjaman”, 2025)
INIKAH era, ketika seorang pemain menemukan dirinya kembali, justru di klub lain? Entah dengan status hijrah permanen, atau pindah lantaran dipinjamkan?
Mayoritas, mereka seperti mendapat pencerahan dan semangat kebangkitan. Simaklah kisah Scott McTominay, gelandang Manchester United yang dijual ke Napoli. Musim lalu McTominay justru bersinar dan menjadi Pemain Terbaik Liga Serie A, dan bukankah realitas ini seperti “mengejek” MU?
Kini pemain asal Skotlandia itu disusul oleh Rasmus Hojlund, yang juga dijual ke Gli Partenopei. Sejauh ini, performa Hojlund di klub peraih scudetto itu sudah menjanjikan, dengan mencetak tiga gol dari lima pertandingan.
Pemain Denmark itu menjadi man of the match dalam laga melawan Sporting Lisbon di Liga Champions, dengan memborong dua gol dari umpan Kevin de Bruyne. “Raja assist” Manchester City itu, bersama Hojlund menjadi rekrutan panas Napoli musim ini. Tak ragu dia menyebut Hojlund mirip eks rekannya di The Citizens, Erling Haaland yang pintar memanfaatkan ruang untuk mencetak gol, dan selama ini dimanjakan oleh umpan-umpannya.
Kisah dari Liga Italia itu kurang lebih sama dengan cerita pemain lainnya dari MU. Antony, yang dipinjamkan ke Real Betis, karena bermain cemerlang musim lalu, kini dipermanenkan oleh klub La Liga tersebut.
La Liga juga menjadi ajang pemulihan performa Marcus Rashford yang kini dipinjamkan ke Barcelona. Striker Setan Merah itu memperlihatkan kontribusi menjanjikan di setiap laga Blaugrana. Dia tampak menemukan kembali kegacoran dalam nuansa kegembiraan bermain di lingkungan baru.
Jack Grealish
Kecenderungan pemulihan penampilan juga dicatat oleh Jack Grealish, gelandang kreatif The Citizens yang kini dipinjamkan ke Everton. Dalam satu musim terakhir, Grealish tak bermain dalam kapasitas terbaik untuk City.
Telah cukup lama, pemain yang pernah disebut-sebut mewarisi skill ajaib ala Paul Gascoigne ini mengalami penurunan kualitas, terutama karena gaya hidupnya yang buruk. Dia tidak mampu mengelola dirinya sendiri, cenderung menyukai pesta dan kehidupan malam.
Di Everton, yang semula diperkirakan bakal makin menenggelamkannya, Grealish ternyata moncer. Dari lima laga, dia telah mengontribusikan empat assist. Bandingkan, dalam 20 pertandingan di Manchester Biru, dia hanya menyumbang satu umpan kunci.
Inikah tanda-tanda kebangkitan pemain usia 30 yang melejit bersama Aston Villa itu?
Tak hanya dia dan pelatih David Moyes yang senang. Rekannya di Etihad, Erling Haaland juga menyambut pemulihan performa Grealish. Di media sosialnya, Haaland menulis “Jack de Bruyne melakukan lagi untuk Everton”.
Bersama Kevin de Bruyne, yang sekarang pindah ke Napoli, Grealish dikenal sebagai gelandang sayap dengan umpan-umpan yang memanjakan para penyerang City. Penurunan performa membuat dia kehilangan kepercayaan dari pelatih Pep Guardiola. Dia memang suka “memanjakan diri” dengan pesta-pesta dan dugem, dan itu diakui sendiri sebagai salah satu penyebab kemunduran penampilannya.
Kepada Sky Sports (detik.com 29 September 2025), Grealish mengaku kini ada perubahan kebiasaan. Dia mengurangi pesta. “Orang-orang berkata, ‘Grealish suka keluar, dia suka berpesta’. Ya, memang seperti itu”.
“Saya ingin bisa menjalani hidup dan menikmati diri sendiri, tetapi jelas ada waktu dan tempat untuk melakukannya. Namun sepertinya, saya mungkin tidak memilih waktu dan tempat yang tepat di City. Di sana, saya tidak bisa menahan diri,” ungkapnya.
David Moyes, pelatih Everton, tidak memberikan pelatihan khusus kepada Jack Grealish agar bisa bersinar lagi. Moyes paham, Grealish memang punya kualitas. “Saya tidak kaget dengan performanya. Dia hanya perlu memaksakan dirinya untuk bisa tampil bagus,” katanya.
Kepada BBC, dia menyatakan, sejauh ini terkesan dengan dampak instan yang dihadirkan pemain kelahiran Birmingham itu. “Bahkan lebih baik dari yang saya kira. Dia mungkin butuh sedikit cinta dan perhatian. Juga pertandingan” .
Menurut Moyes, Grealish memberikan perbedaan besar di Everton. Apakah itu assist, keberadaannya, dan banyak hal.
Teknik Ajaib
Tak sedikit tokoh sepak bola Inggris yang terkesan dengan potensi teknik Jack Grealish, yang bahkan mengingatkan kepada Paul Gascoigne, pemain tim nasional yang sangat menonjol di Piala Dunia 1990 dan Euro 1996. Media bahkan memberi predikat “Greal Deal” untuk salah satu skill olah bola Grealish.
Gascoigne, pemain yang dibesarkan oleh Tottenham Hotspur, pada era 1990-an pernah disebut-sebut sebagai talenta langka Inggris dengan teknik ajaib ala Brazil; kemampuan yang tidak biasa dalam tradisi sepak bola Inggris Raya.
Liga Primer menemukan potensi penerus kemampuan itu pada diri Joe Cole, penyerang sayap yang pernah membintangi Liverpool dan Chelsea dan dijuluki “New Gascoigne”.
Bersama Manchester City, sejak 2021, Grealish sebenarnya menjadi andalan Pep Guardiola. Akan tetapi dia juga “mewarisi” kebengalan Gascoigne yang menyukai pesta, dan itulah yang membuat dia gagal bersinar di tengah para bintang Pasukan Etihad. Belum lama berselang, dia juga sempat mengaku tidak menikmati masa-masa di Etihad.
Lalu kenapa dia tampak menemukan kembali kegembiraan di Everton?
Kalimat David Moyes “…berikanlah sedikit cinta dan perhatian…” tampaknya harus ditafsirkan sebagai “vitamin” untuk Grealish, saat ini. Jika menyimak kembali curhatnya tentang “tidak menikmati masa-masa bersama City”, apakah ada faktor “hati dan rasa” yang tidak dia temukan di sana?
Bahwa Pep adalah pelatih berpengalaman yang tentu sudah mendeteksi persoalan batin salah satu bintangnya, mengisyaratkan terdapat suasana kurang nyaman yang dirasakan Grealish. Setidak-tidaknya, yang dia tumpahkan sebagai unjuk kemampuan di Everton adalah bukti bahwa dia belum memberikan total potensinya di Etihad.
Rasanya, sangat disayangkan andai sepak bola secepat itu kehilangan pemain dengan bakat langka seperti Jack Grealish. Dari sisi ini, peminjamannya ke Everton menjadi jalan keluar yang pas, apalagi ketika dia juga memahami ada persoalan sikap yang dengan sadar dia ubah.
Apakah dia harus berada di luar lingkaran Manchester City dengan dipermanenkan oleh Everton atau hijrah ke klub lain, ada banyak kemungkinan yang tersekulasikan.
Untuk sementara, mari kita nikmati kembalinya Grealish dengan “Greal Deal”-nya…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













