PACITAN (SUARABARU.ID) – Korban pembacokan sadis yang meninggal bertambah jadi dua orang. Arga Novalleky Saputra (10), semalam, menyusul meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Bethesda, Yogyakarta.
Siswa SD Negeri 2 Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur tersebut, meninggal pada Selasa malam (23/9/25). Dengan demikian, korban meninggal akibat kasus pembacokan brutal tersebut, menjadi dua orang. Setelah sebelumnya, korban pertama meninggal dialami Ny Timi (60).
Kepada awak media, Kepala Desa (Kades) Temon, Jamiatin, berkata: ”Nggih leres (Ya benar). Arga meninggal Selasa malam (23/9/25) malam Pukul 23.12 di RS Bethesda, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.
Arga meninggal, karena menderita luka parah di kepala bagian depan dan belakang, serta mengalami pendarahan di otak yang menyebabkan penurunan kesadaran. Itu terjadi, akibat dari tindakan keji yang dilakukan oleh AS alias Wawan (45), warga Dusun Kayen, Pacitan, yang mengamuk secara sadis dengan senjata tajam jenis sabit. .
Seperti pernah diberitakan, pria AS alias Wawan Sabtu malam (19/9/25) lalu, mengamuk secara brutal di rumah mantan mertuanya, Ny Timi, di Dusun Drono, Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan. Dia yang sampai sekarang dinyatakan buron, telah membacokan sabitnya secara membabi buta kepada semua penghuni rumah.
Seketika menewaskan Ny Timi berikut melukai 5 anggota keluarga lainnya, termasuk salah satu diantaranya Arga yang kemudian menyusul meninggal. Awalnya, Arga, dibawa ke RSUD Dokter Darsono Kabupaten Pacitan, tapi karena lukanya parah, kemudian dirujuk ke RS Bethesda DI Yogyakarta.
Cemburu Buta
Selang sehari dirawat di RS Bethesda, Arga meninggal dan menjadi korban tewas kedua akibat amukan bacok sabit yang dilakukan oleh AS alias Wawan. Tiga korban bacok yang kini masih dirawat terdiri atas Miskun (60), mantan istri AS bernama Miswati (40), Eki (27) dan Arga (10).
Pemicu AS ngamuk dengan membacokkan sabit secara membabibuta tersebut, karena dibakar emosi mendengar mantan istrinya, Miswati, yang akan segera menikah lagi dengan pria lain. AS nampaknya menjadi cemburu buta, meski Miswati telah dicerainya 4 bulan yang lalu.
Usai melakukan pemcabokan kepada semua penghuni rumah, AS kemudian kabur dan sampai sekarang menjadi buron. Awalnya, disebutkan AS kabur dengan menyandera anaknya, yakni Bima (17). Belakangan, polisi memberikan penegasan, kalau Bima tidak disandera, tapi berupaya menyelematkan diri. Polisi telah mengamankan Bima sebagai saksi kunci atas tindak pembunuhan dan penganiayaan tersebut.
Upaya perburuan terhadap AS dilakukan jajaran kepolisian Pacitan dibantu para prajurit TNI dari Kodim 0801 Pacitan, perangkat desa dan masyarakat. Lokasi perburuan tersangka, berada di area hutan yang menjadi tempat pelarian tersangka setelah melakukan pembantaian.
Tapi sampai kini, belum dapat menemukan tersangka. Kapolsek Arjosari Polres Pacitan, Ipda Ferry Ardyanto yang mengkoordinir perburuan, mengimbau kepada masyarakat untuk segera melapor manakala melihat keberadaan tersangka. Pernyataan status AS sebagai buron, disampaikan Minggu (21/9/25) oleh Kasat Reskrim Polres Pacitan AKP Khoirul Maskanan.(Bambang Pur)













