blank
Poohon maja setinggi kira-kira 15 meter di situs Mojoarum. Insert: buah maja yang wangi dan manis. Foto: R. Widiyartono

DALAM pikiran kita, buah maja itu rasanya pahit. Ya, karena kita sudah dijejali cerita tentang Raden Wijaya yang menemukan buah berkulit keras itu, dan memakannya, ternyata rasanya pahit. Maka, kerajaan yang didirikannya pun diberi nama Majapahit.

Tetapi, saya memang belum pernah menemukan buah maja yang berasa pahit. Buah maja yang biasa kita temukan, bila kita belah maka di dalamnya terdapat daging buah berwarna putih. Rasanya? Tawar, alias tidak berasa.

Di beberapa daerah, daging buah maja ini bahkan dibuat tepung, kemudian digunakan untuk campuran membuat kue. Memang, buah maja secara umum tidak dianggap sebagai buah yang ekonomis atau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

blank
Suyanto, pegiat Desa Wisata Jarum memegang buah maja yang beraroma wangi dan rasanya manis. Foto: R. Widiyartono

Terlebih lagi dengan apa yang ada di pikiran kita, bahwa buah maja itu rasanya pahit. Paling-paling dipetik, lalu buat mainan, ditendang-tendang karena memang kulit buahnya sangat keras. Kecuali kalau dibanting, kulit buah itu akan pecah, dan isinya kelihatan putih.

Buah Maja Manis

Dalam sebuah perjalanan di daerah Klaten, tepatnya di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, saya menemukan kejutan. Dengan diantar Mas Yanto, penggiat Desa Wisata Jarum, ke sebuah situs namanya Situs Mojoarum.

Situs itu berada di tengah kebun jati, dan terdapat bangunan semacam joglo kecil. Terdapat sebuah prasasti di sana, yang berisi tulisan tentang asal-usul Desa Jarum.

Situs ini menjadi awal mula cerita asal-usul Desa Jarum. Kalau kita beranggapan bahwa Desa Jarum berasal dari kata jarum yang biasa digunakan untuk menjahit, itu sangat melenceng jauh. Tidak ada kaitannya, meskipun desa ini merupakan sentra kerajinan batik, yang tentu tak jauh dari “jarum”, karena batik identik dengan busana.