
Di tempat ini terdapat pohon maja (dibaca mojo). Begitu turun dari sepeda motor, Suyanto mengajak kami memasuki kompleks situs. Kemudian dia menunjukkan pokok pohon yang cukup tinggi.
“Ini pohon buah maja, tetapi bukan maja yang pada umumnya banyak ditemukan di tempat lain,” ujar Yanto sembari melihat sekeliling.
Tetiba dia menemukan dua buah yang bentuknya mirip kedondong tetapi berukuran cukup besar. “Wah, njenengan kabegjan. Kemari nada yang datang ke sini untuk mencari buah maja ini tidak mendapatkan. Njenengan ke sini malah ada dua buah yang jatuh,” ujar Yanto.
Dia pun mengulurkan buah itu, dan meminta untuk menciumnya. “Lho kok wangi Mas?” ujar saya.
“Ya, inilah uniknya buah maja di sini. Buahnya wangi, dan isinya rasanya manis,” ujar Yanto.
Tidak berlama-lama di situ, setelah memotret Lokasi, kami balik ke pendapa desa. Sampai di pendapa, salah satu buah dibelah, dan yang ada di sana mencicipi. “Rasanya manis,” ujar seorang ibu yang menjaga stan pameran kerajinan batiknya.

Yanto pun meminta saya untuk membawa pulang buah maja yang tinggal sebuah itu. Sesampai di rumah, saya simpan di kulkas. Dan sekitar dua minggu kemudian saya belah. Daging buahnya berwarna kuning kejinggaan, dan masih segar.
Karena rasanya memang manis, buah itu saya blend dan menjadi jus. Ternyata rasanya sangat enak, manis. Ini bukti bahwa buah maja memang tidak berasa pahit.
Asal-Usul Desa Jarum
Maka Kepala Desa Jarum Iswanta yang akrab disapa Pak Bendot pun menuturkan, kisah tentang buah maja ini yang menjadi cikal bakal nama Desa Jarum yang ternyata memang tidak berasal dari kata jarum yang biasa untuk menjahit. Dalam Bahasa Jawa, kata untuk jarum adalah dom. Jadi memang tidak berkaitan.
Menurut Iswanta, pada masa lalu, dalam acara pisowanan (upacara menghadap raja), selalu dibawa persembahan atau upeti yang dihasilkan suatu daerah atau desa.

Pada acara pisowanan itu, seorang bekel atau kepala desa masa itu, bernama Ekomoyo menghadap raja, sebagai upacara tahunan. Karena sedang musim paceklik, maka tidak ada yang bisa dipersembahkan. Maka, dalam keadaan terpaksa, sang Bekel Ekomoyo pun membawa buah maja, yang dipetik dari pohon yang tumbuh di desanya.
Saat buah tersebut diterima oleh sang raja, ternyata buah itu beraroma harum mewangi, bahkan rasanya pun manis. “Raja saat itu menyatakan senang dan memerintahkan kepada Bekel Ekomoyo untuk menamakan pedukuhan di wilayahnya Mojoarum. Ini dari kata maja yang harum baunya,” ujar Bendot Iswanta.
Kades yang juga bos bisnis warung angkringan ini menambahkan, dari kata maja arum yang menjadi nama Dukuh Mojoarum, lama-kelamaan orang menyingkatnya menjadi Jarum.
Desa ini kini menjadi desa wisata yang berkembang dengan produk unggulan batik. Batiknya pun bermacam-macam, tak cuma kain, tetapi juga payung, kayu, hingga wayang.
Tunggu cerita itu di tulisan berikutnya.
R. Widiyartono













