blank
Plt Kepala Dinas Pertanian Grobogan Kukuh Prasetyo Rusady di tengah para petani milenial yang melakukan budidaya melon premium sweetnet8. Foto: dok Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Budidaya melon sweetnet semakin menarik perhatian petani di Grobogan. Dengan modal hanya Rp5-9 juta, mereka berpeluang meraup keuntungan hingga Rp30 juta.

Para petani di Kabupaten Grobogan sudah membuktikan prospek ini. Mereka menanam melon premium sweetnet dan berhasil mendapatkan hasil panen yang menggiurkan.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Kukuh Prasetyo Rusady, memperkenalkan varian melon sweetnet kepada petani lokal. Menurutnya, melon ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

BACA JUGA : Wagub Jateng Lepas Penerbangan Perdana Semarang-Kuala Lumpur, Masyarakat Sambut Antusias

Kukuh menjelaskan, melon sweetnet dikenal dengan rasa manis, daging buah oranye tebal, serta tekstur renyah.

Varietas ini berasal dari Thailand dan Vietnam, namun kini populer di Indonesia karena kualitasnya yang tinggi.

Ia menambahkan, program budidaya melon sweetnet merupakan salah satu arahan dari Kementerian Pertanian untuk memberikan alternatif usaha tani selain padi, jagung, atau tanaman pokok lain.

“Kami mendorong petani agar mencoba melon sweetnet. Tanaman ini bisa menambah pendapatan mereka di luar hasil panen utama,” kata Kukuh, Jumat 5 September 2025.

Saat ini, setiap kecamatan di Grobogan sudah memiliki minimal satu greenhouse untuk budidaya melon sweetnet. Greenhouse tersebut dikelola kelompok tani yang berusia rata-rata 55 tahun ke atas.

Melihat kondisi itu, Kukuh mengajak generasi milenial agar tidak ragu menekuni usaha pertanian modern ini.

Ia menilai peluang bisnis melon sweetnet sangat cocok bagi anak muda yang mencari modal kecil dengan keuntungan besar.

“Dengan modal Rp5-9 juta saja, generasi milenial bisa panen Rp30 juta dalam waktu dua bulan. Apalagi sekarang generasi milenial suka yang pasti dan menjanjikan,” ujarnya.

Dari segi produktivitas, Kukuh memaparkan perhitungan sederhana. Dalam lahan greenhouse seluas 300 meter persegi, petani bisa menghasilkan sekitar 1.000 kilogram melon. Jika harga jual Rp30 ribu per kilogram, maka omzet yang didapat sekitar Rp30 juta.

Ia menegaskan, hitungan ini sangat realistis karena sudah terbukti oleh petani lokal.

“Inilah peluang yang seharusnya ditangkap generasi milenial,” tambahnya.

blank
Budidaya melon sweetnet ini bisa menjangkau anak muda yang ingin membuka usaha dengan modal minim namun untung banyak. Foto: dok Tya Widya.

Menariknya, melon sweetnet tidak harus ditanam dengan cara konvensional. Varietas ini bisa dibudidayakan secara hidroponik sehingga lebih hemat lahan dan air.

Metode hidroponik juga memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida. Selain itu, masa panen menjadi lebih cepat sehingga keuntungan dapat diputar berulang kali sepanjang tahun.

Kukuh menyebutkan, varietas melon premium cukup beragam. Di antaranya sweetnet 8, sweetnet 9, sweethummy, hingga kinanti. Setiap varietas memiliki penggemar tersendiri di kalangan petani maupun konsumen.

“Petani tinggal menyesuaikan pilihan varietas sesuai kebutuhan pasar,” jelasnya.

Menurut Kukuh, kelebihan melon sweetnet tidak hanya dari sisi rasa, tetapi juga daya tarik pasar yang semakin tinggi. Konsumen menilai buah ini lebih eksklusif dibanding melon biasa.

BACA JUGA : Kwarran Kalinyamatan Raih Juara 1 Lomba Administrasi Tingkat Kwarcab Jepara.

Karena itu, ia menegaskan peluang usaha budidaya melon sweetnet di Grobogan terbuka lebar. Apalagi pasar buah premium di Indonesia terus berkembang.

Generasi milenial yang tertarik bisa memulai dari skala kecil dengan sistem greenhouse sederhana. Dari sana, mereka dapat memperluas usaha sesuai permintaan pasar.

“Pertanian modern seperti ini bisa menjadi peluang besar bagi anak muda di Grobogan. Jika mau serius, hasilnya sangat menjanjikan,” pungkas Kukuh.

TYA WIDYA