blank
Komunitas Ayah Perwakilan BKKBN Jateng membentangkan spanduk nobar film Panggil Aku Ayah saat trailer iklan film sudah ditayangkan sebelum film utama main. Foto: R. Widiyartono

Ternyata Intan tidak bisa menerima kehadiran Rohmad sebagai ayahnya, dan menghubungi Dedi di untuk menjemputnya. “Dia bukan ayahku. Mang Dedi jemput aku sekarang,” ujar Pacil lewat telepon.

Sayang saat menjemput Dedi mengalami kecelakaan dan sempat hilang tak ada kabarnya. Hingga suatu saat ditemukan tinggal di sebuah masjid dalam keadaan linglung.

Dalam pertemuan ini, Intan menyebut Dedi sebagai ayah, dan kesadaran Dedi tumbuh kembali sambil meneteskan air mata. Kisah berakhir dengan pernikahan Intan dengan Ben, teman kuliahnya.

Mereka yang menonton banyak yang tak kuasa menahan air matanya. Film ini memang penuh dengan keharuan yang menyesakkan. Kalau dulu ada film “Ratapan Anak Tiri” yang menguras air mata, tampaknya “Panggil Aku Ayah” kini penggantinya.

Cinta Pertama Anak Perempuan

Ayah Adalah cinta pertama anak perempuannya. Itu dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Sulistia Ediningsih usai keluar dari gedung teater. Dia mengapresiasi Komunitas Ayah BKKBN Jateng yang punya gagasan untuk nontn bareng film ini.

“Cinta anak, terutama anak perempuan, pada ayahnya akan terbawa sampai dewasa. Dia akan selalu mengenang sosok ayahnya, meskipun itu bukan ayah biologis seperti dalam film ini,” ujarnya.

Film ini bisa menjadi referensi bagi para ayah, untuk menjadi edukator dan teladan bagi anak-anaknya. Sejalan dengan quick win Kemendukbangga/BKKBN dengan program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia).

Sementara Ika Kamila dari Gardu Perak mengatakan, sosok ayah meskipun bukan ayah biologis bisa hadir menjadi sosok ayah yang penuh. “Kehadiran seorang ayah akan membangkitkan rasa percaya diri anak,” ujarnya.

Sedangkan sepasang Duta Genre Jateng Salsabila Rahma Putri dan Muh Fadlan tak bisa menahan keharuannya. “Ini kisah yang menyentuh hati. Ayah saya meninggal beberapa waktu lalu, menonton film ini jadi kangen pada ayah,” ujarnya dengan nafas tercekat menahan tangis. “Saya menangis, tak bisa bicara lagi,” kata dia.

Sedangkan Muh Fadlan yang juga sudah kehilangan ayahnya mengaku bahwa, ayahnyalah yang membentuk karakternya. “Saya merasakannya, dan kami berdua sudah sama-sama tidak punya ayah. Sosok ayah luar biasa, tidak sekadar orang yang ada hubungan darah, perannya luar biasa,” ujarnya dengan nada haru.

R. Widiyartono