Oleh: Mubarok
TAHUN ini, bangsa Indonesia genap berusia 80 tahun. Tema perayaaan kemerdekaan tahun ini adalah “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Sebuah harapan besar yang diamanatkan para pendiri bangsa ini.
Negara ini harus berdaulat, bebas dari segala bentuk penjajahan. Rakyatnya harus sejahtera, dan kemerdekaan adalah pintu untuk mewujudkannya. Kedepan, Indonesia harus terus maju, mewariskan kegemilangan bagi generasi penerus bangsa.
Kemerdekaan Indonesia tercapai atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan perjuangan segenap komponen bangsa. Capaian ini, bukan kerja individu melainkan kerja kolektif. Peran masing-masing sama pentingnya dalam mencapai kemerdekaan bangsa.
Salah satu yang berperan adalah media lokal di berbagai daerah. Mereka terlibat dalam berbagai propaganda perjuangan dengan tujuan kemerdekaan Indonesia. Tulisan ini akan membahas peran dari media lokal untuk mengingatkan kembali urgensi kehadiran media lokal dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Media lokal di Indonesia sudah ada semenjak masa perjuangan. Sebelum proklamasi kemerdekaan, media lokal di berbagai daerah sudah memainkan peran penting. Sebagai contoh adalah Bromartani yang lahir di Surakarta. Media ini lahir pada tahun 1855 dan membentuk identitas kebangsaan melalui pemberitaan budaya.
Medan Prijaji yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo di Bandung pada tahun 1907 secara tegas memuat berita-berita propaganda melawan penjajah. Di Yogyakarta ada majalah Soeara Muhammadiyah (1915) yang menyebarkan nilai keislaman, pendidikan dan semangat nasionalisme. Di Sumatera terbit Soeara Bondjol, Pewarta Deli, Benih Merdeka, dan Tjermin Karo yang menyuarakan kemerdekaan.
Selain media cetak, radio lokal di berbagai daerah juga tidak ketinggalan mengambil peran. Radio Hoso Kyoku yang dimiliki pemerintah Jepang waktu itu, diambil alih oleh pejuang Indonesia setelah Jepang kalah. Radio Hoso Kyoku tersebar di berbagai daerah diantaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Makassar. Radio tersebut digunakan untuk menyiarkan proklamasi 17 Agustus 1945. Radio ini juga menjadi cikal bakal berdiri Radio Republik Indonesia (RRI).
Setelah proklamasi kemerdekaan media lokal semakin berkembang. Lahir koran Merdeka (1945, di Jakarta), Warta Indonesia (1945, di Semarang), Kedaulatan Rakjat (1946, di Yogyakarta), Soeara Rakjat (1945, di Surabaya) Suara Merdeka (1950, di Semarang), dan Djava Post (1949, di Surabaya).
Media-media tersebut lahir setelah proklamasi kemerdekaan. Media-media ini menjaga dan mengobarkan semangat kemerdekaan yang telah diraih. Kedaulatan Rakyat misalnya, kemudian menjadi media utama perjuangan ketika pemerintahan Indonesia sementara berpindah ke Yogyakarta.
Peran media lokal di masa perjuangan menorehkan jejak perjuangan para jurnalis yang menggawangi media tersebut. Para jurnalis dan pengelola media harus berhadapan dengan pemerintah kolonial saat itu. Banyak cerita heroik yang terjadi di berbagai media lokal. Pada saat pertempuran mereka tetap terbit untuk mengobarkan semangat juang.













