blank

Kantor redaksi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari penyergapan Belanda. Tokoh pers seperti Tirto Adhi Soerjo, Haji Agus Salim, Marco Kartodikromo, Tjipto Mangunkusumo, Rosihan Anwar dan Djamaludin Adinegoro terlibat langsung dalam berbagai langkah perjuangan.

Adam Malik menyiarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui kantor berita Domei yang menjadi cikal bakal LKBN Antara. Yusuf Ronodipuro menyiarkan proklamasi melalui radio Hoso Kyosu. Langkah-langkah mereka penuh dengan risiko dan pertaruhan nyawa. Pena-pena mereka menuliskan setiap jejak perjuangan. Berita yang mereka buat mengabarkan kepada masyarakat dan dunia tentang kemerdekaan bangsa ini.

Kutipan ucapan para tokoh pers tersebut sangat layak kita teladani hingga saat ini. Tirto Adhi Soerjo mengatakan ‘pers bukan alat mencari keuntungan, tetapi alat perjuangan dan penyadaran bangsa’. B.M Diah yang menyebarkan berita proklamasi mengatakan bahwa ‘kami menyiarkan proklamai dengan risiko nyawa, karena itulah detik paling menentukan bagi bangsa ini’.

Media menjadi alat perjuangan untuk menumbuhkan nasionalisme, menyebarkan berita kemerdekaan, membentuk identitas nasional, dan menyebarkan informasi penting. Kegemilangan peran media-media lokal ini menjadi warisan yang harus dijaga. Menilik peran-peran penting media lokal tersebut, maka eksistensi media lokal adalah kepentingan bersama bangsa ini. Kita perlu mengambil peran untuk mendukung eksistensi media lokal.

Momentum perayaan kemerdekaan menjadi saat yang tepat untuk mengingat kembali peran-peran para pejuang bangsa. Sumbangsih mereka pada kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini harus diwariskan dan terus diceritakan kepada generasi selanjutnya.

Mubarok (Dosen Program Studi ilmu Komunikasi Unissula Semarang)