
“Ya ke depan harus muncul juara baru. Jangan sampai juaranya hanya orang-orang itu saja. Kalau juaranya masih orang lama, ya artinya tidak ada pembibitan atlet. Jika program pembibitan baik pasti akan muncul atlet yang baik juga,” tandas dia.
Menurut Abdul Hadi, fokus Gabsi saat ini memang ditekankan pada pembinaan atlet bridge putri. Atlet bridge putri termasuk mahal karena setelah menikah mereka biasanya akan berhenti dari aktifitas olahraga ini.
“Rata-rata atlet bridge putri setelah nikah off atau tidak mau main lagi. Mereka tidak dapat izin dari suami. Remaja yang belum nikah pun kadang nggak dapat ijin dari orang tua. Karena olahraga bridge kan mainnya lama. Bisa selesai 2-3 hari, bahkan selesai main bisa sampai malam hari,” keluhnya.
Atlet bridge putri, imbuh dia, biasanya akan bertahan lama karena orang tuanya juga sama-sama pemain bridge. Padahal banyak atlet putri bridge yang sudah main di level internasional atau kelas dunia. Pada PON Aceh atlet bridge Jateng juga meraih medali perak. Ada juga pemain bridge putri yang baru-baru ini ikut turnamen internasional di Italia.
Muharno Zarka













