blank
Hadi Priyanto, penggerak literasi Jepara.

Oleh: Shella Sekarwati

JEPARA (SUARABARU.ID)- Di tengah rendahnya minat masyarakat terhadap literasi, ada sosok yang menganggap menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan sebuah passion atau gairah hidup. Ia adalah Drs. Hadi Priyanto, M.M., Pensiunan pegawai negeri kelahiran Jepara, 22 Februari 1959 yang tinggal di RT 01/RW 07, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri ini dikenal sebagai salah satu pegiat literasi di Jepara.

blank
Rumah Literasi Kartini, di kediaman pribadinya Bondo, Jepara.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai pegiat budaya karena perhatiannya terhadap pelestarian budaya dan sejarah lokal kota kelahirannya sangat besar. Pria yang akrab disapa Hadi ini juga meniti jalur pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang, jurusan Hubungan Masyarakat. Kemudian, ia lanjutkan dengan meraih gelar Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mitra Yogyakarta.

Karier panjangnya di birokrasi dimulai pada tahun 1982, ketika Hadi mulai mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Jepara, hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Bagian Humas. Atas perannya, beliau dianugerahi penghargaan “Humas Pemerintah Inspirasional Tingkat Nasional” oleh Serikat Perusahaan Pers pada tahun 2015.

Di tengah tanggung jawab birokrasi, ia tak pernah jauh dari dunia jurnalistik. Bahkan, ia tercatat sebagai mantan wartawan di SKM Bahari, Majalah Krida, dan Harian Sore Wawasan, serta menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Gelora, Majalah Pena, dan juga Kepala Studio Radio Kartini.

Sejumlah event besar di Jepara juga tak lepas dari peran Hadi, seperti Festival Kartini Jepara yang digelar mulai tahun 2013 hingga 2016. Bahkan pada gelaran terakhir itu telah menjadi event Nasional dengan menghadirkan Pameran Karya Wanita Nasional yang diikuti 25 Provinsi di Indonesia. Bersama Indria Mustika dan Bayu Supriyanto, Hadi juga melahirkan karya Jepara Carnival tahun 2015.

blank
Kunjungan mahasiswa Unisnu di Rumah Literasi Kartini.

Memasuki purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2017, semangat berkarya kakek enam cucu ini tak pernah surut.Ia Itetap produktif sebagai wartawan di SUARABARU.ID dan tak lelah menyuarakan pentingnya literasi dan pelestarian budaya lokal dalam masyarakat. Sebab ia menyadari bahwa menulis dan membaca merupakan salah satu faktor penting dalam membangun fondasi berpikir sebagai peradaban bangea.

Sebagai penulis produktif, Hadi telah melahirkan 20 buku, antara lain: Kartini Pembaharu Peradaban, Kepak Sayap Bumi Kartini, Kartini Penyulut Api Nasionalisme Indonesia, Raden Mas Panji Drs. Sosrokartono: Biografi dan Ajaran-Ajarannya, RMP Panji Sosrokartono: Putra Indonesia yang Besar, Ratu Kalinyamat: Rainha de Jepara, Legenda Jepara, Ensiklopedi Toponimi Jepara, Legenda, Mitos dan Sejarah 35 Kota/Kabupaten di Jawa Tengah, Progres Jepara 2007–2012, Wong Cilik di Panggung Birokrasi Lokal, Mozaik Pengabdian AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, Mozaik Seni Ukir Jepara, Biografi Hendro Martoyo yang ditulis bersama tim.

Terakhir Hadi bersama Ulil Abshor menulis buku Adipati Tjitrosomo, Jejak Pengabdiannya di Pesisir Timur Utara Jawa. Selain itu ia bersama almarhumah Pancasila Wati dan Kris Budiyanto, turut menciptakan syair Mars Jepara yang kini dikenal luas oleh masyarakat sebagai wujud lain kecintaannya pada Jepara. Hadi juga aktif di berbagai organisasi maupun komunitas, diantaranya sebagai: Ketua Umum Yayasan Kartini Indonesia dan Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara,

Tak hanya menulis, Hadi di bawah Yayasan Kartini Indonesia juga mendirikan Rumah Literasi R.A. Kartini di kediamannya, tempat yang menjadi pondasi literasi: menyediakan perpustakaan gratis, pelatihan menulis, diskusi budaya, permainan tradisional, hingga dongeng bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan warga. Semua layanan ini disediakannya tanpa biaya, alias gratis. Di rumahnya, Hadi juga sering menerima pelajar dan mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas sekolah, skripsi, tesis dan disertasi.

Menurutnya, “Menulis itu seperti passion, gairah hidup,”. Kalimat ini bukan slogan kosong, melainkan prinsip hidup yang beliau warisi dari tokoh pujaannya, R.A. Kartini. “Kartini ada karena tulisannya. Jika ia tak menulis, mungkin sejarah melupakannya,” ungkap Hadi. “Karena tulisan-tulisan Kartini beliau menjadi abadi,” tambahnya.

Kegelisahannya terhadap rendahnya budaya literasi mendorong ia bersama sejumlah guru pegiat literasi membentuk Forum Penulis Jepara Literasi, yang rutin mengadakan pelatihan di sekolah, madrasah, dan komunitas. Ia menekankan bahwa literasi adalah gerakan kebudayaan—bukan hanya kemampuan teknis. Karena itu, agar literasi menjadi gerakan yang perlu didukung semua pihak: keluarga, sekolah, dan pemerintah hingga tingkat desa.

“Tidak mungkin anak suka membaca dan menulis kalau orang tuanya cuek pada buku, atau sekolahnya tidak menyediakan perpustakaan yang layak dan disukai siswa. Desa juga harus ambil bagian dengan mendirikan perpustakaan yang representatif,” tuturnya.

Maka, ia selalu berusaha menanam benih cinta literasi. Karena baginya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Salah satu karya kolaboratif terbarunya adalah buku Mozaik Gagasan Kartini untuk Bangsanya, yang melibatkan 60 pegiat literasi Jepara, dan akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan wafatnya Kartini pada 17 September 2025.

Namun Hadi tahu, perjuangan literasi bukan hal yang mudah diukur secara angka. “Kadang saya tidak tahu apakah pelatihan yang saya berikan berdampak atau tidak, kecuali jika ada yang datang dan bilang mereka mulai menulis,” ujarnya.

Hadi menyebut jalan ini sebagai “perjalanan di jalan yang sunyi”. Namun ia percaya tunas-tunas perubahan telah tumbuh. Kelompok-kelompok penulis muda bermunculan, tulisan-tulisan lokal mulai bersinar, dan benih-benih semangat mulai hidup kembali di tengah masyarakat.

Bagi Hadi Priyanto, menulis adalah cara untuk tetap hidup meski raga telah tiada. Seperti R.A. Kartini, beliau ingin dikenang bukan hanya sebagai tokoh, tapi sebagai cahaya kecil yang ikut menyalakan perubahan dalam perjalanan bangsa menuju peradaban yang lebih bermakna.

Di akhir setiap pelatihannya, pesan yang selalu ia ulang sederhana namun penuh makna: “Membacalah dan jangan berhenti. Tulislah apa yang bisa kamu wariskan kepada orang lain.”

(Shella Sekarwati, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Komunikasi dan Desain Unisnu Jepara)