
“Selanjutnya dimaksimalkan daya gunanya sehingga memberikan nilai lebih atas keberadaannya”, imbuh Eko Pramukawati.
Eko yang pada kesempatan tersebut hadir bersama Tim Proklim yaitu Sulistyowati dan Rini Sukadarwati beserta Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 145 Universitas Diponegoro (UNDIP), Muhammad Radja Abdiel Halim Hibatullah (Fakultas Sains dan Matematika jurusan Biologi) serta Anik Sukma (Fakultas Ekonomika dan Bisnis jurusan Ekonomi) menyampaikan, agar masing-masing dari kelompok pembuatan eco enzim memiliki ciri khas.
Pleton I, kelompok dengan dominasi kulit buah mangga, Pleton 2 pada buah, kulit, dan daun jeruk. Kemudian Pleton 3 berfokus pada jeruk bali, meski untuk bahan yang satu ini perlu detail dalam mengambil/mengelupas kulit luarnya.
Pleton 4 memilih kulit nanas sebagai bahan utama, Pleton 5 mengutamakan daun pandan, Pleton 6 mendayagunakan aneka bahan secara seimbang. Dengan adanya bahan dominan, maka kelak pada saat panen, harapannya ada bau khas fermentasi pada masing-masing kelompok. Hal demikian berdayaguna sebagai pengkayaan pengalaman.
“Selain sebagai bahan eco enzim, kulit buah juga bisa menjadi bagian dari bahan komposting, baik komposting cair, maupun Takakura, serta pengisi Lubang Resapan Biopori (LRB). Jadi, saat ibu-ibu memiliki kulit buah seperti pisang, pepaya, jeruk, dll, silahkan masukkan ke LRB, ataupun wadah komposting yang dimiliki. Insya Allah saat waktunya panen kompos, maka bau yang keluar ada aroma segar”, imbuh Eko.
Dia menambahkan tentang daya guna eco enzim, antara lain untuk karbol, sabun cair alami, penjernih udara, pembersih alat rumah tangga, hand sanitizer, dll.
Ibu-ibu Bhayangkari dari Brimob Pasadena ini sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Hal demikian sebagaimana disampaikan salah satu peserta, bahwa “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai penghuni asrama. Kita jadi bisa mengolah sampah sisa makanan seperti kulit buah buahan, sehingga tidak hanya menjadi limbah namun bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Reyhan salah satu peserta kegiatan.
Secara umum kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi antara institusi kepolisian, akademisi, dan komunitas lokal dalam menggalakkan gerakan peduli lingkungan yang aplikatif di tingkat keluarga dan masyarakat.
Selain mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat, kegiatan ini juga membuka peluang bagi anggota Bhayangkari untuk menghasilkan produk bernilai dari sampah rumah tangga.
Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi awal dari gerakan berkelanjutan dalam pemanfaatan limbah organik serta literasi lingkungan di kalangan Bhayangkari.
Dalam skala luas pelatihan ini juga bagian bentuk kolaborasi inspiratif antara komunitas lokal, akademisi, dan institusi negara dalam membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan keterlibatan Proklim Purwokeling yang pada tahun 2024 telah meraih trofi Proklim Lestari dari Kementarian LHK RI di Jakarta, kegiatan ini dapat mendorong lebih banyak keluarga Bhayangkari dan masyarakat luas untuk mulai melakukan pengolahan limbah rumah tangga secara mandiri dan produktif.
Ekprams













