SIDOHARJO (SUARABARU.ID) – Rumah Makan (RM) ‘Joyo’ di Kabupaten Sidoharjo, Jawa Timur (Jatim), menyertakan hiburan live music keroncong jadul (zaman dulu), yang menyertakan instrumen Cello dan Bas bethot (betot). Betot, artinya gerakan tarik-lepas jempol dan jari tangan pada bentang gawai senar, untuk memunculkan suara titi nada dari instrumen Cello dan Bass.
Keroncong adalah genre musik tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan cerminan dari akulturasi budaya antarbangsa. Masuk ke Indonesia sekitar Tahun 1512, pada waktu ekspedisi Portugis pimpinan Afonso de Albuquerque datang ke Malaka dan Maluku. Pelaut Portugis ini, membawa lagu jenis Fado, yaitu lagu rakyat Portugis bernada Arab. Yang titi nada iramanya di Sumatera Barat, seperti Lagu Ayam Den Lapeh.
Nama Keroncong, berasal dari bunyi crong-crong atau krong-krong, yang dihasilkan oleh alat musik ukulele atau cavaquinho, sejenis gitar kecil dari Portugis. Instrumennya menggunakan ukulele cuk dan cak (Cuk gitar kecil dan Cak gitar yang agak besar), gitar, biola, cello, flute dan bass. Melodi keroncong, cenderung sederhana dan mudah diingat, seringkali diulang dengan variasi halus.
Harmoni keroncong, menggunakan progresi akor yang sederhana dan familiar, dengan sentuhan minor untuk memberikan nuansa melankolis. Lirik lagu keroncong, umumnya bertema cinta, kerinduan, alam, pesan perjuangan dan kehidupan sehari-hari, dengan menggunakan bahasa yang puitis.
Jenis lagu keroncong, terdiri atas Keroncong Asli, Langgam Keroncong dan Stambul. Keroncong asli, dengan mengikuti struktur baku dan menggunakan tangga nada diatonis. Langgam Keroncong, variasi dari keroncong asli dengan penyesuaian melodi dan ritme. Stambul, lagu keroncong dengan gaya khas yang berbeda dari keroncong asli dan langgam.
Keroncong digunakan sebagai musik pengiring dalam pertunjukan teater komedi bangsawan. Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol seperti polka agak lamban ritmenya). Yang oleh Kusbini, disusun kembali dan dikenal dengan nama Keroncong Muritsku.
Kampung Tugu
Keroncong di Tanah Air, awalnya berkembang di Kampung Tugu Jakarta, yang merupakan perkampungan imigran Portugis yang membawa serta budak dari Goa India. Dalam blantika musik Nusantara, masa kejayaan keroncong berlangsung pada pertengahan Abad Ke-20. Ditandai dengan munculnya banyak orkes keroncong, dan penyanyi terkenal yang legendaris seperti Gesang, Waldjinah dan Sundari Soekotjo.
Sebelum kemudian berkembang menjadi musik Campursari (1968) yang dipopulerkan oleh Manthous dari Gunungkidul, Yogyakarta, dengan memasukkan tambahan instrumen gamelan. Juga berkembang dengan kemunculan Congrock dan Congdut, yang melambungkan penyanyi Didi Kempot.
Rombongan kunjungan kerja Pimpinan DPRD Kabupaten Wonogiri ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sempat mampir makan siang di RM Joyo di Sidoharjo. Lokasinya berdekatan dengan Stadion Gelora Delta yang tidak jauh dari Gerbang Tol Madiun-Solo.
Ikut serta dalam kegiatan tersebut, para wartawan yang selama ini setia melakukan peliputan di DPRD Kabupaten Wonogiri. Terdiri atas Bambang Pur (suarabaru.id), Joko Santosa (KR), Wibatsu Ari Sudewo (Jawa Pos), Tulus PE (Jatengpress.com), Erlangga Bima Sakti (Tribune), Aris Yulianto (Joglosemar), Aris Munandar (Kabar Wonogiri), Noto (TA TV) dan Fendy (Radio Giri Swara).
Siang itu, suasananya ramai, karena bersamaan dengan acara reuni alumni Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Dalam bereuni, mereka menyanyi dan bergoyang joget bersama. Suasananya riang gembira.”Setiap Hari Sabtu dan Hari Minggu ada live music-nya,” tutur Joko salah satu karyawan RM Joyo Sidoharjo. Di sini, tambah Joko, juga sering dipakai untuk hajatan, seperti acara lamaran, resepsi pengantin, ulang tahun, rapat-rapat, pertemuan komunitas dan lain-lain. Masih dalam satu komplek, juga tersedia pelayanan salon kecantikan dan spa.(Bambang Pur)













