blank
Evakuasi mayat korban dari dasar lubang perut bumi, dilakukan personel kepolisian bersama aparat dari BPBD dan relawan SAR Wonogiri, berlangsung lama dan dramatis.(Dok.Humas Polres Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Seorang pria berinisial S (52), ditemukan tewas membusuk di dalam Luweng (lubang perut bumi). Lokasinya di Luweng Rejoso, Dusun Bogor, Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito (sekiitar 67 Kilometer arah selatan Ibukota Kabupaten Wonogiri).

Kapolres Wonogiri AKBP Jarot Sungkowo melalui Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, semalam, menyatakan, Polsek Paranggupito Polres Wonogiri bersama tim gabungan telah berhasil mengevakuasi mayat korban ada Senin petang (7/7/25).

Tindakan mengevakuasi korban, dilakukan dengan teknis vertical rescue bersama aparat dari BPBD dan para relawan dari Tim Search And Rescue (SAR) Kabupaten Wonogiri. Yakni dengan menggunakan satu set alat vertical rescue, tabung oksigen dan batrei (lampu sorot) Polarion. Personel BPBD Kabupaten Wonogiri terdiri atas Fuad Wahyu Pratama, Nanang Setyawan, Sentot Gunawan, Wiyanto dan Teguh Sri Adi. Juga melibatkan prajurit TNI darr Koramil dan Camat Paranggupito, Catur Susilo Prono, serta Kepala Desa (Kades) Gudangharjo dan Kades Sambiharjo.

Korban diketahui merupakan seorang petani asal Desa Sambiharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. Pengambilan jenazah korban dilakukan dengan bantuan tali-temali yang biasa menjadi kelengkapan relawan SAR ketika melakukan tindakan evakuasi dengan teknik vertikal rescue.

Ini diawali dengan meluncurkan personel SAR ke dasar Luweng, untuk kemudian melakukan pengangkatan mayat korban ke atas. Proses pengangkatan mayat korban berlangsung dramatis dan memerlukan waktu lama.

Hal itu berkaitan kondisi medan yang sulit. Karena lokasi Luweng Rejoso berada di wilayah perbukitan bentang kawasan Kars Gunung Sewu, yang tempatnya tidak ada jalannya. Luweng Rejoso, memiliki lubang tegak yang terjal dengan kedalaman sekitar 50 Meter (M).

Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, menyatakan, tindakan evakuasi dilakukan mulai Pukul 13.00, dan korban baru berhasil diangkat pada Pukul ukul 17.45. Kondisi mayat keadannya telah membusuk.

Bau Busuk

Kasus ini, diawali dengan memancarnya bau busuk dari Luweng Rejoso, yang dicium secara tak sengaja oleh Saksi Joko Purwanto. Saat dilacak, Saksi melihat di dasar lubang Luweng ada sesosok mayat manusia. Temuan ini, kemudian dilaporkan ke Perangkat Desa Gudangharjo, dan diteruskan ke Polsek Paranggupito Polres Wonogiri.

Petugas mendapatkan keterangan dari pihak keluarga, bahwa korban telah lama mengalami depresi karena permasalahan ekonomi dan pisah ranjang dengan istrinya. Itu berlangsung sejak Maret Tahun 2023.

Pemeriksaan kondisi mayat, kemudian dilakukan oleh Tim Kesehatan dari Puskesmas Paranggupito Kabupaten Wonogiri, Hasilnya, korban diperkirakan sudah meninggal sekitar lima hari yang lalu. Tubuh korban, telah dalam keadaan membusuk dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Dari keterangan keluarga, korban disebutkan suka hidup menyendiri tinggal di sebuah gubug yang berada di tanah tegalan miliknya. Yang lokasinya berdekatan dengan Luweng Rejoso. Itu dia lakukan sejak pisah ranjang dengan istrinya. Bekal makanan dikirimkan secara rutin oleh Ibunya. Tapi, beberapa hari terakhir ini, bekal makan dan minum tidak pernah diambil.

Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, menyatakan, pihak keluarga menduga kuat korban sengaja mengakhiri hidup dengan bunuh diri, Yakni melompat ke dalam lubang perut bumi, karena merasa putus asa dengan derita hidup yang dialaminya. Pihak keluarga, dapat menerima peristiwa ini sebagai musibah dan menolak mayat korban dilakukan autopsi.

Senin petang (7/7/25), dilakukan penyerahan jenazah korban ke pihak keluarga dengan disaksikan oleh Perangkat Desa Gudangharjo, untuk pengurusan pemakamannya.

Dengan kejadian ini, Polres Wonogiri mengimbau masyarakat, agar selalu peduli dengan kondisi lingkungannya masing-masing. Terlebih pada anggota keluarga yang mengalami permasalahan mental atau depresi. Tujuannya, untuk mencegah agar kejadian seperti ini tidak terulang.(Bambang Pur)