BLORA (SUARABARU.ID) – Di tengah derasnya arus informasi yang setiap detik membanjiri ruang digital, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal yang tidak lagi bisa ditawar bagi generasi muda.
Kemudahan mengakses berbagai platform digital membuat masyarakat, khususnya mahasiswa, dihadapkan pada tantangan untuk mampu membedakan informasi yang benar dari informasi yang menyesatkan.
Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI), Siswanto, menegaskan bahwa pers memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga kualitas informasi di tengah perubahan lanskap media yang berkembang begitu cepat.
Menurutnya, kemajuan teknologi digital memang memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk memproduksi dan menyebarkan informasi, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan ancaman berupa hoaks, disinformasi, hingga opini yang dibangun tanpa didukung fakta.
“Pers memiliki posisi yang sangat strategis di tengah perubahan lanskap media yang bergerak begitu cepat. Kemajuan teknologi digital telah membuka ruang yang luas bagi setiap orang untuk menyampaikan informasi. Namun, ruang digital juga dipenuhi berbagai tantangan, mulai dari penyebaran hoaks, disinformasi, hingga opini yang kerap dibangun tanpa landasan fakta,” ujar Siswanto, Jumat (3/7/2026).
Siswanto, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Blora tersebut menjelaskan, bahwa perkembangan teknologi telah mengubah wajah penyebaran informasi secara drastis.
Jika sebelumnya informasi didominasi oleh media arus utama, kini setiap individu dapat menjadi pembuat konten melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi demokratisasi informasi, namun juga meningkatkan risiko penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.
Siswanto mengatakan bahwa keberadaan pers menjadi semakin penting dalam menjaga ruang publik tetap sehat. Pers, lanjutnya, tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjalankan fungsi verifikasi sehingga masyarakat memperoleh berita yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Di era digital ini, semua orang bisa membuat konten, tetapi tidak semua orang mampu menghasilkan informasi yang benar. Di sinilah pers memiliki peran penting sebagai penjaga akal sehat publik dengan menghadirkan informasi yang faktual, berimbang, dan beretika,” tegas Siswanto.
Lebih lanjut, Siswanto menilai tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini bukan lagi terbatasnya akses terhadap informasi. Sebaliknya, persoalan utama justru terletak pada kemampuan menyaring, menguji, dan memverifikasi informasi di tengah derasnya arus konten digital yang hadir setiap saat.
Melek Media Lewat Literasi
Menurut Siswanto, literasi media menjadi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa dan generasi muda. Kemampuan memanfaatkan teknologi harus diimbangi dengan kecakapan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu, propaganda, maupun polarisasi yang berkembang di ruang digital.
“Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah minimnya akses terhadap informasi, melainkan kemampuan menyaring informasi yang benar di tengah banjir konten digital. Karena itu, kemampuan literasi media harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi maupun polarisasi di ruang digital,” kata Siswanto.
Politikus Partai Golkar tersebut berharap, seluruh insan pers terus menjaga independensi, profesionalisme, serta menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugasnya. Dengan menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan berbasis fakta, pers diyakini mampu memperkuat literasi masyarakat sekaligus menjadi benteng dalam melawan penyebaran hoaks dan disinformasi.
“Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan pers yang independen dan profesional. Pers harus menjadi rujukan informasi yang benar sekaligus benteng melawan hoaks dan disinformasi,” harap Siswanto.
Siswanto juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga menjadi masyarakat yang cerdas dalam mengonsumsi informasi. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan literasi media merupakan fondasi penting untuk menciptakan ruang digital yang sehat, demokratis, dan bertanggung jawab di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
“Kemampuan berpikir kritis bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Kami berharap generasi muda mampu memanfaatkan media digital secara bijak dan bertanggung jawab demi menjaga kualitas informasi di ruang publik,” tutup Siswanto.
El Nyunanto













