KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Tim Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) – Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Biskuit Ternak Sapi bagi Kelompok Tani Sumber Rejeki, Jumat (3 Juli 26). Kegiatannya bertempat di kandang sapi komunal Dusun Kalangan, Gondowangi, Sawangan, Kabupaten Magelang.
Itu sebagai bagian dari program PDB Unimma-UGM, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026.
Ketua PDB Unimma-UGM, Dr Dra Retno Rusdjijati MKes, ketika membuka pelatihan tersebut menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan upaya nyata sebagai solusi bagi para peternak dalam menyediakan pakan ternak, khususnya pada saat musim kemarau. Utamanya ketika ketersediaan pakan cenderung menurun dan menjadi kendala utama bagi peternak.
“Melalui pelatihan ini, diharapkan para peternak mampu memiliki alternatif pakan yang praktis, mudah dibuat, dan dapat disiapkan jauh hari untuk mengantisipasi kekurangan pakan pada musim kemarau,” ujar Retno.
Dengan demikian, peternak tidak hanya memperoleh keterampilan teknis pembuatan pakan. Tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang peluang pemanfaatannya.

Ditandaskan, program PDB Unimma-UGM berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai bentuk pendampingan dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Guna mendukung peningkatan kapasitas, produktivitas, serta kesejahteraan peternak di desa binaan.
Sementara itu drh Aji dari UGM ketika mengisi pelatihan tersebut menjelaskan bahwa pembuatan biskuit ternak dapat dilakukan dengan cara yang mudah. Menggunakan bahan-bahan yang murah dan alami, serta memiliki daya simpan yang lebih tahan lama. Menurutnya, biskuit ternak dapat menjadi pilihan pakan yang efektif untuk kebutuhan sapi, terutama ketika pakan sulit diperoleh saat kemarau.
Lebih lanjut, drh Aji juga menambahkan bahwa biskuit ternak dapat membantu peternak dalam proses pemberian obat-obatan maupun jamu kepada ternak. Dengan bentuk pakan yang praktis, pemberian nutrisi/ramuan dapat dilakukan lebih terarah dan memudahkan manajemen kesehatan ternak.
drh Aji juga menyampaikan bahwa produksi biskuit ternak dapat dijadikan usaha sampingan bagi peternak. Biskuit dapat dijual kepada peternak lain, sehingga berpotensi menambah penghasilan dan meningkatkan kemandirian ekonomi kelompok tani.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 orang peternak sapi setempat. Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta. Karena selama ini mereka menghadapi kendala dalam penyediaan pakan, terutama pada musim kemarau.
Eko Priyono













