blank
Badko LPQ Wonosobo berencana akan membangun pabrik sabun cuci dari dana abadi santri. Foto : SB/dok Prokompim

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Siapa sangka, dari infaq seribu rupiah yang dikumpulkan oleh para santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), bisa lahir sebuah gerakan ekonomi yang menjanjikan?

Di Wonosobo, inisiatif Dana Abadi Santri TPQ bukan sekadar wacana, melainkan sudah berjalan selama dua tahun dan mulai menunjukkan dampak nyata. Saat ini, dana abadi tersebut telah terkumpul Rp 20 juta setiap 40 hari sekali. Jumlah itu masih akan terus bertambah,seiring kesadaran kolektif para santri, asatidz dan wali santri.

Mereka ikut gotong-royong mendukung program ini. Apalagi jika seluruh 40 ribu santri TPQ di Wonosobo berpartisipasi, potensi dana yang terkumpul bisa mencapai Rp 40 juta, hanya dengan menyisihkan Rp 1.000 setiap 40 hari.

Namun, tidak semua TPQ mewajibkan infaq. Ada pula TPQ yang menggratiskan sepenuhnya biaya mengaji para santrinya.

“Kita tetap menghormati pilihan itu, karena semangat program ini bukan memaksa, tapi membangun kesadaran bersama,” ujar H Sholeh Rosyadi, Ketua Badko LPQ Wonosobo.

Sebagai dana abadi, prinsip utamanya adalah tidak boleh berkurang. Dana pokok tetap utuh, sementara penggunaannya difokuskan pada pengembangan usaha produktif yang bisa dilakukan oleh para guru ngaji (asatidz).

Keuntungan dari usaha tersebut akan dibagikan secara bagi hasil, sebagai upaya memperkuat organisasi dan memperlus cakupan kegiatan. Setiap 40 hari sekali, pertemuan digelar untuk membahas laporan penggunaan dana. Tak ada nominal yang terlalu kecil untuk dicatat.

Sabun Cuci

blank
Ketua Badko LPQ Kabupaten Wonosobo, H Sholeh Rosyadi. Foto : SB/Muharno Zarka

Bahkan penggunaan Rp 5.000 pun wajib disertai nota dan dicatat secara tertib. Transparansi menjadi fondasi utama gerakan ini.

“Semua dana tercatat. Penggunaannya terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan oleh siapa pun yang ditunjuk sebagai pengelola,” tegas Sholeh Rosyadi.

Ke depan, Badko LPQ Wonosobo tengah bersiap memulai usaha produksi sabun cuci cair, yang akan dipasarkan langsung ke keluarga para santri dan masyarakat umum. Inisiatif ini bukan hanya untuk mencari keuntungan, tapi menjadi langkah konkret membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput.

“Coba bayangkan, kalau setiap wali santri membeli sabun cair produksi kita, omzetnya bisa luar biasa. Dan itu artinya, dana abadi santri bisa terus berkembang,” tutur Sholeh optimistis.

Untuk memperkuat gerakan ini, Badko TPQ juga akan menggandeng Baznas Wonosobo dan Kantor Kementerian Agama guna mendorong dukungan lebih besar.  Program ini bergerak dalam ekosistem yang besar. Di Wonosobo, tercatat ada 855 TPQ dengan jumlah santri sekitar 40 ribu anak dan 4.000 ustadz-ustadzah. Jika semua pihak terlibat, potensi transformasi sosial dan ekonomi sangat besar.

Gerakan Dana Abadi Santri bukan sekadar menabung. Ini adalah investasi sosial jangka panjang, yang kelak dapat menjadi benteng ketahanan ekonomi umat dari level paling bawah.

Dengan semangat gotong royong dan pengelolaan profesional, Wonosobo telah memberi contoh: bahwa dari seribu rupiah yang ikhlas, bisa tumbuh peradaban baru yang Qurani dan mandiri.

Muharno Zarka