
Beberapa kritikus menafsirkan karya ini sebagai refleksi dari mimpi Rachmaninoff, dengan bagian A yang menyerupai suara lonceng di pemakaman dan bagian utamanya yang berpusat pada peti mati.
Begitu penampilan dua komposisi, Jonathan keluar dari panggung, kemudian masuk embali dan siap menampilkan komposisi berikutnya.
Pada penampilan ketiga, Jonathan memainkan Etude Op. 25 No. 1 dalam A-flat mayor, karya Frédéric Chopin yang dikenal sebagai “Aeolian Harp”. Komposisi ini adalah sebuah karya piano solo yang ditulis oleh Frédéric Chopin pada tahun 1836 dan diterbitkan pada tahun 1837. Karya ini terkenal karena arpeggio yang mengalir dan melodi yang melayang di atasnya.
Karya Mochtar Embut
Selain menampilkan karya komponis-komponis internasional, Jonathan Wibowo juga menyajikan karya komponis Indonesia, Mochtar Embut. Anak Perahu, karya Mochtar Embut tampil dengan irama mengalun, bagai menggambarkan perahu yang terombang-ambing dibuai angin dan ombak laut yang pelan. Kemudian pada klimaks lagu menggambarkan perahu diterpa gelombang lautan.
Penampilan berikutnya, masih karya Mochtar Embut, komposisi berjudul Suita Kaliurang. Suita Kaliurang, berkisah tentang Getuk Lindri, makanan khas di daerah Kawasan Merapi, kemudian Rumah Gadang yang terinspirasi suasana Minang, lalu Merapi yang teduh, dan Keluarga Pak Pawiro.
Gethuk Lindri menampilkan ritme ceria yang menggambarkan suasana santai dan ramah di desa kaki Gunung Merapi. Kemudian Rumah gadang mengambil inspirasi dari arsitektur tradisional Minangkabau. Menyajikan melodi yang lebih hangat dan penuh nostalgia. Merapi, menggambarkan Gunung Merapi yang bertempo lebih tenang, reflektif, dengan unsur melodi pentatonis khas Jawa. Kemudian Pak Pawiro, sebuah narasi tentang keluarga lokal, lengkap dengan nuansa cerita dan dinamika emosional
Permainan Orgel Pipa
Pada babak kedua, Jonathan tampil dengan memainkan orgel pipa yang ada di balkon belakang GKI Karangsaru. Jonathan Wibowo naik ke balkon menyiapkan diri untuk tampil. Sementara presenter menceritakan bagaimana orgel pipa dibangun di GKI Karangsaru.
Ini merupakan satu-satunya orgel pipa di Semarang yang berfungsi. Di Gereja Blenduk sudah tidak bisa dimainkan, begitu pula di Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan. Atas ide Pendeta Angga Prasetya, maka dibangunlah orgel pipa berbahan kayu jati, mahoni, dan bambu.
Dengan orgel pipa ini, Jonathan mengawali babak keduanya dengan menampilkan Liebster Jesu, wir sind hier. Ini adalah sebuah lagu himne rohani Kristen berbahasa Jerman yang sangat terkenal di kalangan gereja-gereja Lutheran dan Protestan, terutama di Jerman dan negara-negara yang menerima pengaruh musik gereja Jerman.
Lagu ini biasanya dinyanyikan sebelum doa epiklese, yaitu menjelang pembacaan Alkitab pada saat ibadah. Melodi lagu ini disusun oleh Johann Rudolf Ahle pada tahun 1664. Namun, versi yang paling terkenal saat ini adalah karya Johann Sebastian Bach (1685–1750). Dan, versi inilah yang dimainkan Jonathan Wibowo dengan orgel pipa.
Selanjutnya Jonathan tampil dengan Fugue in G minor K. 154, karya Wolgfang Amadeus Mozart For the Beauty Earth. Dalam penampilan ini, Jonathan mengiringi Paduan Suara GKI Karangsaru. Suasana menjadi sangat syahdu, saat orgel pipa ini mengiringi paduan suara.
For the beauty of the earth/ for the glory of the skies/ for the love which from our birth/ over and around us lies/ Lord of All, to thee we raise/ this our hymn of grateful praise.
Karya ini merupakan ucapan Syukur pada Tuhan, atas karunianya, memberikan bumi yang indah kepada umat manusia.
Tampilan berikutnya, Jonathan menyajikan komposisi Meditation on Amazing Grace. Ini sebuah lagu Rohani Kristen yang mengisahkan tentang penebusan dosa. Dalam Bahasa Indonesia berikut potongan liriknya: Sungguh besar anugerah-Mu/ memberi aku selamat/ dulu aku sesat kini ditemukan/ buta dicelikkan…..
Selanjutnya, Jonathan Wibowo tampil dengan komposisi karya Johann Pachelbel Toccata in E Minor P 462. Toccata berasal dari Bahasa Italia yang bermakna “menyentuh”. Komposisi Toccata in E Minor P 462bernuansa serius dan dramatis. Dengan bagian-bagian yang bersemangat dengan urutan dan sekuens.
Toccata merupakan persembahan terakhir dalam konser Musica Sacra et Profana Jonathan Wibowo di GKI Karangsaru. Namun, sebelum menutup konser, pemandu acara mengajak seluruh hadir berdiri dan menyanyikan lagu Pujilah Tuhan sang Raja dari Kidung Keesaan (KK) 52.
Setelah semuanya usai, Jonathan Wibowo turun dari balkon tempat orgel pipa yang baru saja dimainkan, lalu maju ke depan. Para pengunjung pun bertepuk tangan, dan melakukan standing applause untuk pianis top Indonesia ini. Jonathan pun menerima karangan bunga sebagai wujud penghargaan atas penampilannya.
Setelah doa penutup, acara konser usai, pengunjung pulang dengan menyimpan Kesan mendalam atas penampilan sang pianis, Jonathan Wibowo.
R. Widiyartono













