blank
Umat Buddha melepas ikan ke Sungai Progo, hari ini (Sabtu, 30 Mei 26). Foto: eko

KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Umat Buddha menebar ribuan ikan ke Sungai Progo, di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, hari ini Sabtu (30 Mei 26). Itu merupakan rangkaian peringatan Waisak tahun ini.

Tradisi tersebut bernama Fangshen. Fangshen atau fangsheng adalah ritual atau tradisi Buddhis yang dilakukan dengan melepaskan makhluk hidup, seperti ikan, burung, atau kura-kura, kembali ke alam bebas. Bertujuan untuk menyelamatkan nyawa hewan dari pembunuhan atau penjagalan, menumbuhkan rasa cinta kasih, serta mengumpulkan karma baik.

Adapun jumlahnya 1.050 kantung plastik. Tiap kantung beda jumlah ikannya tergantung ukuran besar kecilnya. Paling banyak 30 ekor ikan.

Jenisnya ikan Emas serta Wader Jawa, total sekitar 10 ribu ekor. Selain itu 16 burung merpati putih. Yang menebar para bhiksu dan umat Buddha.

Diawali tarian Kinara Kinari oleh delapan wanita muda.
Menggambarkan tentang cerita relief Candi Pawon. Tariannya tidak begitu lama, hanya sekitar lima menit.

“Menceritakan sepasang kekasih berwujd setengah manusia, setengah burung yang menjaga pohon kehidupan bernama pohon Kalpataru,” tutur salah satu penari, Alfirasy Isfaruna, dengan nama panggilan Runa (16) warga Sabrangrowo, Borobudur.

blank
Burung Merpati Putih dilepas ke udara bebas. Foto: eko

Ketua Panitia, Lama Rama Santoso Lim, menuturkan, kegiatan itu merupakan ucapan terima kasih kepada bumi. Mendoakan seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini untuk menebarkan cinta kasih. “Itulah kebudayaan yang ada di tanah Jawa ini dari nenek moyang kita,” katanya.

Umat Buddha juga punya satu doa untuk melepaskan mkhluk hidup kembali ke habitatnya. “Dari ajaran di Kitab Suci dan kebudayaan kami gabungkan, dijadikan satu upacara, sebagai ucapan terima kasih kepada bumi yang telah mendatangkan kesejahteraan. Kami kembali mendokan untuk semua makhluk agar hidup sejahtera,” tuturnya.

Adapun tentang melepaskan burung merpati dan ikan, itu sebagai wakil dari seluruh makhluk. Maknanya mendoakan seluruh makhluk yang terlihat maupun tidak terlihat. “Ada makhluk kecil dan serangga kami doakan agar hidup panjang umur,” tuturnya.

Tentang merpati warna putih, bermakna agar mereka tidak terkurung. Tapi hidup bebas. “Di kitab suci bebas tidak harus warna putih. Apa pun warnanya,” imbuhnya.

Tentang jenis ikan, panitia tidak mau menimbulkan kontroversi. Tapi ditanyakan kepada UMKM setempat tentang ikan jenis apa yang bisa hidup di sungai tersebut. Dan tidak merusak ekosistem yang ada di situ.

Eko Priyono