
Kemudian diputuskan, bahan-bahannya terbuat dari kayu dan bambu. Pdt Angga melihat, di gerejanya banyak sekali kayu-kayu jati bekas tua. Daripada tidak dimanfaatkan, dia pun menggunakannya untuk bahan pembuatan alat musik ini. Apalagi sudah ada Pak Martin, yang memang ahli dalam mengolah kayu.
Pendeta Angga menuturkan, untuk membangun orgel pipa ini, dia memilih bahan kayu dan bambu, bukan bahan-bahan yang terbuat dari metal. “Kalau dari metal, selain harganya mahal di Indonesia juga sulit mencari bahan metal khusus untuk pembuatan orgel pipa ini. Kalau mendatangkan dari luar tentu harganya sangat mahal,” ujar lulusan Teologi Universitas Kristen Duta Wacana ini.
Menurut Pdt Angga, pipa-pipa yang terbuat dari bahan kayu dan bambu ini, bisa menghasilkan suara-suara yang lebih soft.
Maka Pdt Angga pun menunjukkan, pipa-pipa kayu yang warnanya tua adalah jati lama bekas, dan yang warnanya muda adalah kayu mahoni baru. Kemudian juga ada pipa-pipa bambu.
Untuk menghasilkan nada tinggi-rendah, dibutuhkan tekanan udara (balk bellows) yang sesusai. Saat ada tekanan angin dari mesin mekanik orgel, tidak boleh masuk ke win chest (atau dada angin), dengan ukuran tekan yang ditentukan.
“Lalau bagaimana bisa keluar suara yang berbmacam-macam? Ada pipa yang dibuat semacam ada pipi di sisi kanan-kiri, ini menghasilkan suara bulat. Kemudian yang tanpa pipi akan menghasilkan suara yang bright atau cerah. Kemudian ada bidang miring di luar dan di dalam yang membedakan suara,” jelas alumni Ilmu Komunikasi Undip ini.
Untuk pembuatan alat musik orgel pipa yang beratnya sekitar 5 ton ini, dibutuhkan waktu sekitar lima tahun. Dan, kini selain menjadi kebanggaan warga jemaat GKI Karangsaru, keberadaannya juga menjadi daya tarik bagi pemain organ dari luar daerah.
Ada seorang warga Surabaya, yang sekurangnya sebulan sekali datang untuk berbibadah di GKI Karangsaru. “Dia pemain orgel pipa pernah tinggal di Jerman,, lalu pulang ke Surabaya, tidak tidak menemukannya. Setelah tahu di Semarang ada, dia sering datang dan main. Bahkan mau konser tunggal di sini,” kata Pdt. Angga.
Orgel pipa ini memang tidak dimainkan setiap pelaksanaan ibadah, hanya untuk acara ibadah tertentu, mengiringi nyanyian dalam ibadah secara ensembel, dan semacamnya. “Dengan keberadaan organ pipa ini, kami bisa menghimpun organis gereja di Semarang. Kami juga menyelenggarakan kursus dengan paket-paket yang disiapkan. Pesertanya bahkan ada dari gereja di luar Semarang,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.
Workshop dan Konser
Pada hari Jumat, 20 Juni 2025 lusa, akan dilaksanakan workshop memainkan piano untuk mengiringi ibadah dengan gaya klasik dan etnik di GKI Karangsaru, dimulai pukul 18.00.

Kemudian esok sorenya, Sabtu 21 Juni 2025 konser menampilkan pianis Jonathan Wibowo dalam gelaran Musica Sacra et Profana dengan memainkan piano dan orgel pipa.
Meskipun tampil di gereja, tidak hanya musik dan lagu-lagu gereja yang ditampilkan, sesuai judulnya Sacra et Profana, tak hanya nyanyian rohani tetapi juga lagu-lagu nonrohani.
“Konser diawali dengan permainan piano pada babak pertama dan orgel pipa pada babak kedua. Konser ini terbuka untuk umum, free, tetapi harus daftar di nomor 087732636705,” kata Pendeta Angga.
Yang berminat untuk menyaksikan konser ini, silakan datang, dan membuktikan bahwa di Semarang ada orgel pipa yang bisa dimainkan.
R. Widiyartono













