blank
Eksotika orgel pipa berbahan kayu dan bambu, yang mampu melantunkan pujian bagi Tuhan, melalui-lagu-lagu yang dimainkan. Foto: R. Widiyartono.

Maka, ketika dia ditahbiskan menjadi pendeta di GKI Karangsaru pada tahun 2019, dia punya ide untuk membuat orgel pipa di gerejanya. “Gereja kami termasuk gereja tua, dibangun tahun 1952. Menurut saya cocok kalau suasana klasiknya itu dipadukan dengan keberadaan orgel pipa,” ujar Pdt Angga Prasetya dalam perbincangan dengan SuaraBaru.id bersama pengelola Rumah PoHan Sylvi Probowati dan suaminya Po Han, di GKI Karangsaru, Senin petang (16 Juni 2025 lalu).

Dia pun kemudian menulis surat kepada majelis jemaat, bahwa Pdt Angga Prasetya secara pribadi akan menghibahkan orgel pipa untuk dibangun di GKI Karangsaru. Majelis setuju dengan ide itu. Tetapi, prosesnya tentu tidak gampang, karena, harus ada prosedur yang dijalani dalam melakukan pembangunan atau penambahan pada bangunan tua.

Lalu majelis jemaat melakukan kajian secara arsitektural, sipil, heritage karena berkaitan dengan gedung tua dengan mendatangkan tim heritage dari Semarang. Ternyata dari sisi arsitektur, konstruksi sipil, dan heritage-nya oke.

blank
Pdt Angga Prasetya menggagas dan menghibahkan orgel pipa untuk gerejanya, yang bertujuan untuk makin memuliakan Tuhan lewat pujian. Foto: R. Widiyartono

Untuk membangun orgel pipa ini, harus dibangun balkon untuk penempatannya. Lalu bagian dalam gereja digali sekitar 2,5 meter untuk melihat kelayakan konstruksi fondasi bangunan, apakah mampu bila dibebani bangunan balkon ditambah orgel pipa yang beratnya sekitar 5 ton.

Setelah melalui  kajian dengan hitungan-hitungan yang jatang, jadilah, baklon dibangun dilanjutnya dengan pembangunan orgel pipa tersebut.

Kayu Bekas dan Bambu

Sebelum membangun orgel pipa ini, dia membeli buku yang isinya tentang piranti musik berbahan pipa itu yang berasal dari Amerika dan Jerman. Dia pelajari, kemudian dia menemui Martino, ahli pembuatan orgel pipa yang pernah sekolah di Jerman itu.