blank
Sesaji dalam ritus Perang Obor Tegalsambi, Jepara. Foto: Fitra

JEPARA (SUARABARU.ID) –  Sesaji  merupakan bagian dari tradisi di Indonesia yang masih banyak dilakukan masyarakat secara turun temurun, khususnya masyarakat Jawa. Sesaji juga  telah  ada sejak sebelum Islam masuk dan  “ubo rampe” benda-benda yang dipersiapkan pun bisa berbeda tergantung dari makna dan filosofinya.

Sesaji biasanya terdiri dari sejumlah makanan, minuman  dan benda lain, seperti bunga dan dupa yang dipersembahkan dalam suatu upacara keagamaan dan dilakukan secara simbolis untuk tujuan berkomunikasi dengan kekuatan gaib yang dihormati secara turun temurun.

Budaya sesaji  menjadi salah satu contoh akulturasi budaya Hindu-Islam. Kebudayaan ini menjadi identitas masyarakat lokal dan sekaligus menjaga kearifan budaya dan bahkan seluruh sistem kehidupan.

Ritual dilakukan sebagai salah satu sarana mencari keselamatan dan bukti nyata tentang keyakinan yang dimiliki oleh kelompok atau anggota masyarakat tentang adanya kekuatan yang Maha Dahsyat di luar manusia. Ritual ini  juga merupakan bentuk rasa hormat kepada Tuhan, Dewa, Leluhur, dan roh-roh.

blank
Menata sesaji sebelum diletakkan pada tempat-tempat yang ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Foto: Fitra

Demikian juga pada   ritus budaya Perang Obor  di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan,  Jepara. Ada sejumlah “ubo rampe” sesaji yang harus disiapkan mulai ritual   Sedekah Bumi hingga puncak ritus,  Perang Obor yang digelar  pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon  bulan  Besar  atau Dzulhijah. Konon Perang Obor ini telah dilakukan oleh masyarakat Tegalsambi  pada sekitar abad ke XVI.

Menurut Petinggi Tegalsambi Agus Santoso, “ubo rampe” sesaji yang dilakaukan secara turun temurun terdiri gedang rojo, gedang kawisto setangkep, kelapa muda 1 butir, arang-arang kambang, bunga, bubur abang, bubur putih, jambe, daun sirih diikat  lawe, polo, kluwak, sisir,  kaca,  bedak, bumbu dapur lengkap seperti bawang putih, bawang merah, cabe, kemiri, tumbas, mrico, jinten.  Juga ada sesaji berupa   kupat lepet, pisang  klutuk, kinang, trasi, moto, ender, kopi, ketela bakar, bubur warna warni, paso tempat  darah, paso sate, paso ocok-ocok, cowek 3 biji, air didalam  kendi kecil  10 biji, kendi besar, dan nasi.

“Namun maknanya  sekarang semua ikhtiar  adalah untuk memohon berkah dari Allah dan juga menghormati para leluhur desa serta melestarikan budaya yang kami warisi dari para sesepuh,” ujar Agus. Sedangkan sesaji di tempatkan  di rumah petinggi, perbatasan dengan desa tetangga, balai desa dan makam-makam leluhur, tambahnya.

Perang Obor sendiri  diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa Tegalsambi  terhadap peristiwa  pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut yaitu perkelahian  Ki Babadan dan Ki Gemblong yang dilakukan dengan api daun kelapa kering yang disebut blarak.

Pasalnya,  hewan Ki Babadan yang di pelihara Ki Gemblong banyak yang sakit. Ajaibnya, percikan api perkelahian dua sahabat itu kemudian justru menyembuhkan ternak yang sakit. Peristiwa tersebut kemudian diwariskan dan dilakukan turun temurun oleh keturunan Ki Babadan dan Ki Gemblong dan masyarakat Tegalsambi hingga sekarang.

Hadepe