KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Plh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kebumen Dr H Salim Wazdy MPd mengajak umat Islam di Kebumen terus memperkuat semangat pengorbanan.
Hal itu ia ungkapkan saat bertugas sebagai Khatib Salat Idul Ada 1446 H yang diselenggarakan PHBI Kabupaten Kebumen di Alun-alun Pancasila, Jumat 6/6. Sebagai Imam Salat Idu Adha Mul-an Anafati.
Salim Wazdi menuturkan, pada momentum yang mulia ini, pihaknya mengajak umat Islam terus memperkuat semangat pengorbanan, ketaatan, dan cinta kepada Allah Swt, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.
“Pengorbanan mereka bukan sekadar simbol ketaatan personal, tetapi menjadi manifestasi nilai-nilai luhur yang terus hidup hingga kini,”tandas Salim.
Salim menyatakan, salah satu nilai penting yang layak direnungkan dalam Idul Adha adalah bagaimana pengorbanan itu bisa diwujudkan dalam menjaga lingkungan hidup dan kelestarian alam sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt.
Seraya mengutip surah Al-Hijr [15] ayat 19 yang artinyaa “Kami telah menghamparkan bumi, memancangkan padanya gunung- gunung, dan menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukurannya.”
Oleh karena itu, Salim memaparkan, mencintai dan menjaga lingkungan bukanlah sekadar nilai tambahan, tetapi merupakan bagian dari perintah syariat.

Bahkan Islam menekankan bahwa menjaga lingkungan merupakan wujud nyata dari penghambaan kepada Allah. Merusak alam berarti mengingkari keseimbangan ciptaan-Nya, sementara memeliharanya adalah manifestasi ketundukan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Pada bagian lain, Salim juga mengungkapkan bahwa Idul Adha tidak hanya mengajarkan kita untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ritual. Momentum mulia ini juga menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk menunjukkan kepekaan sosial dan tanggung jawab ekologis atau lingkungan. Hal ini dapat diperkuat dengan sabda Rasulullah saw:
“Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit.”(H.R At-Tirmidzi).
Lebih dari itu, Salim menerangkan, kurban mengajarkan makna kepedulian sosial, pengendalian diri, dan harmoni antara manusia dan alam. Dalam perspektif ekoteologi, kita diajak untuk menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam.
Istilah ini merupakan gabungan dari kata “ekologi” yakni ilmu tentang hubungan makhluk hidup dan lingkungan, sedangkan “teologi” atau “tauhid” yakni ilmu tentang ketuhanan dan keyakinan akan keesaan Allah.
Dalam khutbahnya, Salim juga mengingatkan saat menyembelih hewan kurban, hendaknya meneladani sikap Nabi Muhammad yang sangat santun dan welas asih kepada hewan.
Penyembelihan dilakukan dengan pisau yang tajam, tanpa menyiksa, dan dengan penuh penghormatan terhadap makhluk hidup. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan sekadar ritualistik, tapi juga sangat ekologis dan etis.
Salim menambahkan, kesadaran ekologis ini perlu dikembangkan menjadi gaya hidup keagamaan. Karena krisis lingkungan hari ini bukan hanya krisis fisik, tapi juga krisis spiritual: hilangnya rasa amanah, adab terhadap alam, dan kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki posisi dalam tatanan ciptaan Allah.
Oleh karena itu, tanggung jawab ekologis dalam Islam bukan sekadar wacana moral atau sosial, melainkan bagian dari mandat syar’i yang menyatu dalam seluruh aspek kehidupan umat.
“Melestarikan alam berarti menjaga warisan ilahi yang menjadi sumber daya, tempat tinggal, dan penopang peradaban bagi generasi kini dan yang akan datang,”tandas Salim.
Komper Wardopo













