blank
Dua dosen FPB UKSW, Dr. Ir. Bistok Hasiholan Simanjuntak, M.Si., dan Ir. Djoko Murdono, M.S. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Kiprah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dalam ranah riset strategis nasional kembali mendapatkan pengakuan. Dua dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW, Dr. Ir. Bistok Hasiholan Simanjuntak, M.Si., dan Ir. Djoko Murdono, M.S., resmi ditunjuk sebagai anggota Tim Ahli dalam Tim Akselerasi Perluasan Produksi Kedelai, Bawang Putih, dan Gandum oleh Menteri Pertanian dengan mandat khusus sebagai pakar pengembangan komoditas gandum yang menjadi fokus keahlian mereka.

Saat dikonfirmasi, Dr. Ir. Bistok Hasiholan Simanjuntak, M.Si., dan Ir. Djoko Murdono, M.S., mengungkapkan, penunjukkan ini menjadi penegasan kontribusi akademisi UKSW dalam perumusan dan pengawalan kebijakan strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi nasional terhadap tiga komoditas tersebut, pemerintah memandang perlu melakukan langkah percepatan melalui pembentukan tim lintas sektor yang terdiri dari akademisi, lembaga penelitian, dan kementerian teknis.

Sebagai salah satu pionir dalam pengembangan gandum tropikal di Indonesia sejak tahun 2000, UKSW memiliki rekam jejak yang tak terbantahkan. “Kami merasa ada tanggung jawab lebih untuk menjawab tantangan ini. Apalagi target produktivitas yang ditetapkan sangat tinggi, yakni enam ton per hektar untuk gandum,” ungkap Dr. Bistok, yang sejak awal konsisten meneliti varietas gandum tropis bersama tim FPB UKSW.

Dr. Bistok yang juga Dekan FPB UKSW ini menuturkan, meskipun area tanam mencakup wilayah Indonesia, pencapaian produktivitas sebesar 6 ton per hektar bukanlah hal yang mudah. Diperlukan keterlibatan para ahli serta pembenahan lahan secara menyeluruh. Ia juga menyampaikan bahwa UKSW yang telah menjadi bagian dari konsorsium nasional sejak tahun 2000 bersama universitas lainnya, hingga kini tetap konsisten dan aktif dalam penelitian gandum.

Menurut Dr. Bistok, identifikasi lahan yang tepat, kalender tanam yang sesuai dengan pola iklim Indonesia, dan kecermatan dalam memilih varietas adalah kunci pencapaian target. “Musim hujan bisa merusak fase generatif tanaman. Ini tantangan yang hanya bisa dijawab dengan pendekatan ilmiah dan teknologi presisi,” ujarnya.

Dari Benih Hingga Konsumsi

Sementara Ir. Djoko Murdono menambahkan, UKSW bukan hanya dikenal dalam pengembangan bibit, tetapi juga dalam edukasi pengolahan gandum hingga ke tahap konsumsi masyarakat. “Kami tidak hanya berbicara soal menanam dan panen, tetapi juga soal edukasi masyarakat untuk mengolah dan mengonsumsi gandum secara sehat,” jelasnya.

Kegiatan seperti pelatihan pembuatan roti gandum, edukasi tentang pentingnya gandum utuh yang tinggi serat, serta kunjungan dari universitas lain, seperti Universitas Pertahanan (Unhan) ke laboratorium dan ladang gandum di Science Techno Park UKSW, menjadi bukti keterlibatan UKSW dalam membentuk ekosistem pangan yang berkelanjutan.

Ia menekankan, apabila Indonesia mampu mengurangi impor gandum hingga 10% dari total impor yang mencapai 11 juta ton per tahun, hal tersebut sudah merupakan capaian yang patut disyukuri. “Kita tidak anti-impor, tapi kita harus punya stok, harus mandiri,” tegas Ir. Djoko, sambil menekankan pentingnya transformasi pola konsumsi masyarakat Indonesia yang selama ini lebih dominan beras.