BATANG (SUARABARU.ID) – Pemerintah Kabupaten Batang memastikan tidak akan ada penggabungan atau merger Sekolah Dasar (SD) Negeri untuk tahun ajaran ini. Meski beberapa sekolah tercatat minim pendaftar, keberadaan fasilitas pendidikan dasar di setiap desa dinilai krusial agar anak-anak tidak kehilangan akses belajar akibat kendala jarak.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang Bambang Suryantoro Sudibyo, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mempertahankan seluruh sekolah yang masih mendapatkan murid baru.
“Untuk tahun ini SD tidak ada yang di-merger karena semua menerima sekolah walaupun ada yang jumlahnya sedikit. Yang jelas kalau di desa itu hanya ada satu SD, tidak boleh dihilangkan. Satu desa harus ada satu SD,” katanya saat ditemui di kantornya, Kamis (9/7/2026).
Bambang menjelaskan, kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi geografis wilayah. Jarak antar-dukuh di Kabupaten Batang sering kali menjadi tantangan berat bagi anak-anak usia sekolah dasar jika sekolah mereka harus digabung dengan desa lain.
“Pertimbangan kami misalnya di-merge walaupun satu desa, kalau dukuhnya berlainan, kan kasihan. Dukuh A dengan dukuh B jaraknya katakan 8 km aja lah, untuk anak SD kan juga kasihan sih, Mas. Walaupun cuma segitu, yang penting Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan seperti itu,” jelasnya.
Bagi Disdikbud Batang, mendapatkan 10 siswa baru dalam satu kelas sudah menjadi pencapaian yang patut disyukuri di tengah dinamika demografi saat ini.
Saat ditanya mengenai beban biaya operasional yang membengkak akibat jumlah siswa yang sedikit, Bambang menepis kekhawatiran tersebut. Ia menegaskan bahwa anggaran tidak menjadi kendala karena skema pembiayaan sudah disesuaikan secara proporsional.
“Tidak, karena pembiayaannya pun sesuai dengan jumlah siswa. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) itu kan menyesuaikan jumlah siswa, ya. Saat ini, jumlah SD Negeri di Kabupaten Batang tercatat sebanyak 454 sekolah. Angka ini berkurang satu dibanding tahun lalu yang mencapai 455 sekolah, akibat adanya kebijakan merger satu sekolah di wilayah Kecamatan Blado,” terangnya.
Berbeda dengan tahun lalu di mana ada sekolah yang benar-benar kosong tanpa murid, tahun ini seluruh sekolah dipastikan memiliki aktivitas pembelajaran. Pihak dinas juga melihat adanya fenomena unik di mana tren peminat sekolah negeri bersifat fluktuatif. Sekolah yang dulunya sepi peminat, bisa saja kembali ramai di tahun-tahun berikutnya.
“Ini, seperti contoh SD dulu tidak dapat murid, sekarang malah dapat murid. Kita enggak tahu, makanya kalau dihilangkan, kita enggak tahu nanti perkembangan pertumbuhan anak juga kita tidak tahu juga sih ya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, selama sekolah tersebut masih dipercaya oleh masyarakat untuk menitipkan anak-anak mereka, pemerintah akan terus mempertahankannya. “Kalau bisa ya jangan sampai ada yang yang di merger kalau memang masih terima murid. Intinya itu aja,” pungkasnya.
Nur Muktiadi













