
Hadir juga Djoko Sutedjo SH, mantan Wakil Pemimpin Perusahaan, Mantan Wapemred Sosiawan yang sekarang di Bawaslu Jateng, kemudian Parlind Manik, Didik Wiyono, Eddy Tuhu para mantan redaktur dan karyawan bagian TU seperti Yetty, Wati, Ninik, Aning yang mereka nyaris tak pernah ketemu. Juga karyawan bagian pemasaran, lay out, ekspedisi, dan hampir semua bagian yang ada yang hadir.
Ada suasana harus Ketika Imam Subagyo bertemu Rina Ginting. Imam yang mengalami stroke, langsung menangis ketika bersalaman dan berpelukan dengan Rina Ginting. Rina yang meninggalkan Wawasan beberapa tahun setelah terbit, sebelumnya tinggal di Jakarta.
“Sekarang saya tinggal di Kudus,” ujar perempuan yang menurut teman-temannya nyaris tak berubah sejak sekitar 40 tahun lalu.
Banyak yang Lupa
Harap dimaklumi saja, bahwa tidak bertemu beberapa dasawarsa menjadikan banyak yang lupa. Bahkan ada seorang mantan reporter yang bertanya, siapa sosok yang duduk dengan membawa tongkat. “Lho itu Mas Didik Wiyono redakturmu dulu,” ujar rekan lainnya.
Dalam kesempatan ini, mantan Pemimpin Redaksi Soetjipto SH, menyampaikan rasa bahagiannya masih bisa bertemu dengan orang-orang yang dulu bekerja sama. “Meskipun banyak yang dulu bersama kita kini telah tiada,” ujar dia.
Soetjipto juga bersyukur, karena “alumni” Wawasan ada yang kemudian menjadi profesor. Di antaranya Prof Dr Agus Maladi Irianto, yang sudah almarhum dan terakhir yang baru saja dikukuhkan Prof Dr Ir Rohadi Jarot, dosen di Universitas Semarang. Belum lagi berhasil melanjutkan studinya hingga meraih gelar doktor seperti Adi Nugroho, Mufid Rahmat, Masrur Ridwan, Sulistyowati yang melanjutkan karier di tempat lain.
Soetjipto mengenangkan, era tahun 80-90-an, adalah era berat bagi dunia pers. “Punya uang, punya kases belum tentu bisa menerbitkan media. Bersyukurlah, Pak Budi Santoso bisa mendapatkan SIUPP untuk terbitnya Wawasam,” ujar mantan anggota DPRD Provinsi Jateng ini.
Dia juga mengisahkan betapa seringnya pihak Kodam mememberi peringatan (zaman itu istilahnya “imbauan”) bila memuat berita-berita tertentu. “Kita harus sangat hati-hati saat itu. Berkali-kali mendapat peringatan dan telepon dari aparat karena pemberitaan yang dianggap ‘berbahaya’. Tapi justru di situlah kita belajar tentang integritas jurnalistik,” kenangnya.













