GROBOGAN (SUARABARU.ID)– Warga Dusun Gowa, Desa Kemadohbatur, Tawangharjo, Grobogan melaksanakan tradisi tahunan sedekah bumi yang berlangsung di Gua Urang.
Gua Urang merupakan tempat yang disakralkan warga. Di gua ini mengalirkan mata air penting dan telah menjadi sumber kehidupan utama bagi warga di sekitarnya.
Gua Urang, bagi warga setempat, bukan semata bentang alam, tapi nadi desa Kemadohbatur yang mengalirkan kehidupan dan makna budaya lewat tradisi sedekah bumi tiap tahunnya.
Di tengah rimbunnya hutan Kemadohbatur, gema doa dan ucapan syukur warga terdengar dari Gua Urang. “Kami sangat bersyukur karena mata air dari Goa Urang terus mengalir dan bisa dimanfaatkan oleh warga,” ucap Kepala Desa Ignatius Gebyar penuh haru.
Warga dari berbagai usia tumpah ruah dalam kebersamaan, menjadikan sedekah bumi sebagai ruang silaturahmi sekaligus wujud cinta pada bumi. Di bawah tenda sederhana, para tokoh desa, pemuda, dan pihak Perhutani duduk sejajar, merayakan harmoni antara alam dan manusia.
“Ini adalah anugerah yang harus terus kita syukuri dan jaga bersama,” lanjut Ignatius, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga alam.
Sementara, Kepala BKPH Pojok, Bambang Riyantono, menyampaikan kekaguman atas semangat warga dalam merawat tradisi dan kawasan hutan sekitar. “Kami dari Perhutani selalu terbuka untuk bekerja sama dengan masyarakat,” ujarnya.
Dia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor demi pelestarian. Baginya, budaya dan lingkungan harus berjalan seiring. “Pelestarian lingkungan dan budaya harus berjalan beriringan,” tambah Bambang.
Gua Urang menyimpan air yang tak putus mengalir, sebuah karunia yang, menurut Perhutani, muncul karena tegakan hutan tetap terjaga. “Air yang terus mengalir di Goa Urang ini tidak lepas dari tegakan yang terjaga,” ujar Bambang.
Warga menggelar doa bersama, menyantap kenduri, dan menanam pohon sebagai bukti syukur atas rezeki dan harmoni yang masih terjaga. Penanaman pohon bukan hanya simbol, tetapi juga janji warga untuk terus menjaga akar kehidupan agar tetap mengalir hingga anak cucu.
Tradisi ini tak sekadar ritual, tapi pendidikan lingkungan hidup yang mengajarkan anak muda mencintai bumi melalui tindakan nyata. “Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi kita semua,” harap Bambang.













