blank
Wamen Kebudayaan Garing Ganesha , bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wabub Ibnu Hajar, Ketua DPRD Agus Sutisna dan Plh. Sekda Ary Bachtiar. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Wakil Menteri Kebudayaan RI,  Garing Ganesha Djumarno  telah melakukan kunjungan di Jepara.  Garing diterima oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo di pendapa R.A. Kartini didampingi Forum Pimpinan Daerah dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah.

Dalam kunjungan ini Wamen Kebudayaan Garing Ganesha pertama kali mengunjungi ruang pingitan R.A.Kartini yang terletak di dalam kompleks rumah dinas bupati Jepara. Ia nampak tertegun berada diruang berukuran 12 meter persegi yang  dulunya menjadi tempat RA Kartini dipingit selama 4,5 tahun.

blank
Wakil Menteri Kebudayaan Garing Ganesha saat mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata Andiaanega. Foto: Hadepe

Di ruangan ini Wamen Kebudayaan dan rombongan menerima penjelasan dari Andianega, salah satu pemandu dari Museum Kartini Jepara. Ia nampak menanyakan tentang sejumlah peninggalan R.A. Kartini yang tersimpan di ruang pingitan dan komplek pendopo tersebut.

Secara khusus Garing mendapatkan penjelasan tentang sekolah Kartini yang berada di serambi belakang pendapa. Di tempat itu tahun 1904 Kartini mendirikan sekolah gadis untuk bangsa bumiputera.  Ia bersama adiknya,  Rukmini mendirikan sekolah gadis ini.

blank
Wakil Menteri Kebudayaan saat mengunjungi sekolah Kartini. Foto: Hadepe

Selanjutnya, Wamen Kebudayaan diterima di pendopo  dan disambut Tari Dewi Tri Sekti. Tari ini diciptakan oleh Aris Setiasih yang terinspirasi kepahlawanan tiga putri Jepara, yakni Ratu Shima, RA Kartini, Ratu Kalinyamat serta Aksara Band yang melantunkan lagu-lagu Nidji dengan judul Laskar Pelangi. Juga lagu selamat ulang tahun untuk Bupati Witiarso yang tanggal 18 April kemarin ulang tahun ke 43.

Di Jepara, Wamen Kebudayaan Garing Ganesha dengan didampingi  Bupati Witiarso Utomo, Wakil Bupati Ibnu Hajar, Ketua DPRD Agus Sutisna, Dandim 0719 Jepara Letkol Khoilrul Cahyadi mengunjungi sejumlah tempat diantaranya sentra ukir Mulyoharjo, sanggar Seni Kridha Budaya Sukodono, serta sentra tenun Troso. Di sentra ini Garing mengunjungi Tenun Limo.

blank
Wamen Kebudayaan Garing Ganesha bersama Forkopimda Jepara. Foto: Haddepe

Bupati Jepara Witiarso Utomo menjelaskan, Kartini telah melahirkan gagasan-gagasan besar untuk bangsa dan masyarakat Jepara. “ Beliau telah  membina perempuan dan pengrajin, memulai embrio ekonomi kerakyatan berbasis kerajinan, yang kini menjadi fondasi industri kreatif lokal,” ujarnya

Kartini menurit Witiarso Utomo berhasil mengenalkan dan mendapatkan pasar di luar negeri untuk produk ukir, batik, dan berbagai produk kerajinan rakyat, maka ukir-ukiran yang semula hanya dipandang sebagai produk seni, berkembang menjadi industri bernilai ekonomi tinggi.

blank
Gaya Wamen Kebudayaan Garing Ganesha saat bawakan lagu Laskar Pelangi. Foto: Hadepe

Sementara itu, Ratu Kalinyamat, yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2023, adalah simbol nasionalisme maritim Nusantara sekaligus pembakar semangat anti kolonialisme. “Beliau bukan hanya mengirim armada perang melawan penjajah Portugis, tetapi juga membangun Jepara sebagai pusat ilmu pertukangan dan  ukir kayu serta industri galangan kapal. Pusat ilmu pertukangan dan ukir itulah, yang hari ini menjadi identitas budaya sekaligus motor ekonomi rakyat Jepara,” tutur Witiarso Utomo.

blank
Ketua Yayasan Kartini Indonesia Hadi Priyanto saat serahkan buku karyanya yang berjudul Kartini Penyulut Api Nasionalisme Indonesia kepada Garing Ganesha. Foto: Sutarya

Sementara Wamen Kebudayaan Garing Ganesha  menjelaskan pentingnya ketahanan budaya dari terpaan budaya global. Karena itu kami memberikan apresiasi pada Jepara yang telah menjadikan seni ukir sebagai muatan lokal kurikulum. “Ini harus kita dukung bersama termasuk menjadikan seni ukir sebagai kekayaan budaya tak benda dunia,” tegasnya. Apalagi seni ukir diawali dengan kepedulian Kartini untgtuk mengembangkannya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap anak-anak Jepara yang masih tertarik pada kebudayaan lokal seperti batik, ukir dan tarian. “Semua harus berangkat dari hati,” ujarnya

Ia juga mengajak Bupati Witiarso dan Wakil Bupati Ibnu Hajar untuk bekerja sama mengembangkan kebudayaan.

 

Hadepe