blank
Kepala BBPJT, Dwi Laily Sukmawati bersama Koordinator KKLP Pemodernan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Shintya. Foto: Dok/BBPJT

“Indikator bahwa program ini dapat menyasar ke penutur muda juga dilihat dari partisipasi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Ketika awal-awal kami meluncurkan program RBD, para peserta yang dikirim ke FTBI tingkat provinsi itu masih melalui penunjukan, tidak melalui lomba FTBI tingkat kabupaten/kota. Namun, pada tahun 2022, 2023, dan 2024 mereka semua sudah berasal dari pemenang FTBI tingkat kabupaten/kota,” tuturnya.

Shintya menjelaskan, program Revitalisasi Bahasa Daerah memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya. Tantangan terbesar terletak pada keterbatasan anggaran pada awal pelaksanaan program RBD dari pemerintah daerah karena kegiatan FTBI belum merata diadakan di seluruh kabupaten/kota.

“Banyak yang masih beranggapan bahwa menggunakan bahasa daerah adalah hal yang memalukan sehingga mempersulit pendekatan terkait dengan bahasa daerah. Di samping itu, seringnya pergantian pemangku kebijakan pemerintahan daerah juga menjadi tantangan yang sering dihadapi dalam melaksanakan RBD ini,” katanya.

Shintya menambahkan, RBD menjadi tanggung jawab bersama. Diperlukan dukungan dari pemerintah, masyarakat, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan agar bahasa daerah tetap bertahan.

Shintya berpesan kepada seluruh generasi muda agar tidak malu untuk berbahasa Jawa sebagai bahasa daerah, karena banyak manfaat yang didapat dari berbahasa daerah.

Ning S