blank
Musta'in Ahmad (ketiga dari kiri), saat berbincang dengan peserta FGD usai acara. Foto: dok/kemenag

SOLO (SUARABARU.ID)– Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad menegaskan, Sistem Pengendalian Pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajaran Pancasila Rahmatan Lil’ Alamin atau Sisdalak P5RA ini, bisa menghadirkan pembelajaran lintas disiplin ilmu.

Menurut dia, hal ini agar peserta didik di madrasah mampu mengamati dan memikirkan solusi dari permasalahan yang ada di sekitarnya. Di samping itu, peserta didik diharapkan mampu menjawab tantangan global, sebagai Generasi Emas Indonesia Tahun 2045.

”Implementasi Proper Sisdalak P5RA ini dimulai dari Solo. Sebab, kota ini meski tidak begitu luas wilayahnya, namun masyarakat sangat heterogen dan dinamis. Termasuk dalam hal pendidikan,” kata Musta’in Ahmad, yang juga merupakan inisator P5RA.

BACA JUGA: Mahasiswa USM Juara Nominasi Desain Bangunan Gedung Hijau

Pernyataannya itu, seperti yang dia sampaikan saat memberikan sambutan pada Focus Group Discussion (FGD) Pembahasan Sisdalak P5RA, di Riyadi Palace Hotel, Jalan Slamet Riyadi No 335 Purwosari, Kecamatan Laweyan, Solo, Rabu (9/10/2024).

Disampaikan juga, P5RA menjadi upaya dalam mewujudkan Pelajar Pancasila, yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Yakni beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

”Ini sejalan dengan Islam Rahmatan Lil’ Alamin. Islam yang kehadirannya di kehidupan masyarakat, mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi umat manusia maupun alam semesta. Saya berkeyakinan, Proper P5RA akan memberikan perubahan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia,” tukas Musta’in.

BACA JUGA: Pimpinan DPRD Kota Magelang 2024 – 2029 Ucapkan Sumpah

FGD Sisdalak P5RA ini dibuka Prof Abu Rokhmad, selaku Dirjen Pendis Kemenag RI secara virtual. Dalam keterangannya dia menyebut, visi pendidikan Indonesia antara lain membentuk penguatan profil Pelajar Pancasila.

”Karakter ini sangat diperlukan pada Indonesia Emas 2045. Sebagaimana kajian para ilmuan luar negeri, Indonesia akan menjadi kekuatan besar keempat atau kelima dunia, pada tahun 2045. Kesempatan itu harus kita raih, tidak bisa kita lewatkan begitu saja. Dalam mempersiapkan generasi masa depan Indonesia, membutuhkan nafas dan spirit P5RA,” imbuh dia.

Sementara itu, Dr Multazam Ahmad, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng menyatakan, moderasi beragama adalah menghormati semua agama dan keyakinan, serta menghargai perbedaan dalam beragama.

BACA JUGA: Bawa Sajam Hendak Tawuran, 3 Pemuda Diamankan Polisi

Dia menyebut, moderasi beragama juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, keadilan, dan toleransi. Moderasi beragama juga menolak segala bentuk ekstremisme dan radikalisme, baik dari dalam maupun luar Islam.

”Di sinilah peran madrasah dalam menumbuhkan moderasi beragama. Madrasah memiliki peran penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kurikulum. Melalui kegiatan ekstrakurikuler dan seminar, madrasah dapat menumbuhkan sikap toleransi dan moderasi. Madrasah dapat menjadi contoh dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran,” tandasnya.

Riyan