SEMARANG (SUARABARU.ID) – Penurunan angka anak stunting, merupakan suatu bukti, bahwa pemerintah siap menyambut generasi emas Indonesia, yang merupakan generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten dan berdaya saing tinggi.

Menurut Ketua Tim Pokja KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Perwakilan BKKBN Jawa Tengah Nasri Yatiningsih, SE, MM, untuk langkah yang paling mudah dalam mencegah stunting dapat dilakukan dengan pemberian ASI ekslusif dalam 6 bulan pertama. Selain itu, faktor lingkungan juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Hal itu disampaikan, dalam sosialisasi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana), yang diselenggarakan kembali oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan menggandeng mitra kerja Anggota Komisi IX DPR RI, Tuti Nusandari Roosdiono, tentang pentingnya menjaga asupan gizi anak untuk mencegah stunting.

“ASI itu luar biasa dampaknya bagi anak. Perlu diperhatikan dalam pemberian ASI ekslusif 6 bulan pertama, anak dianjurkan untuk tidak diberi makanan atau minuman tambahan, cukup dengan air ASI saja sudah cukup. Selain itu kualitas lingkungan juga jangan lupa, sebab mempengaruhi tumbuh kembang anak bapak ibu” papar Nasri Yatiningsih, di Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Rabu (18/10/2023).

Ditegaskan pula, bahwa cara pencegahan dan mengatasi anak yang terindikasi stunting tidak boleh sembarangan, oleh sebab itu disarankan kepada masyarakat, untuk dapat langsung konsultasi ke layanan BKKBN.

Program Penurunan Stunting

Dalam kesempatan itu, Tuti N Roosdiono menyampaikan tentang salah satu program kerja di Komisi IX DPR RI, untuk keluarga Indonesia adalah bersinergi dengan BKKBN untuk penguatan program penurunan stunting, yang di targetkan secara nasional menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

 

“Ingat ya bapak ibu, anak stunting sudah pasti kecil tapi anak yang kecil belum tentu stunting. Jadi bapak, ibu, jagalah asupan gizi, pola asuh serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Tingkatkan perhatian kita terhadap kesehatan ibu hamil dan bayi serta Balita,” pesan Tuti N Roosdiono.

Stunting perlu menjadi perhatian bersama, lanjutnya, yang harus melibatkan lintas sektor dan dukungan secara penuh dari masyarakat. Karena anak yang stunting, perkembangan kecerdasannya tidak bisa optimal sampai ia nanti dewasa. Sehingga edukasi dan promosi percepatan penurunan stunting, harus terus-menerus dilakukan.

“Karena kebanyakan anak-anak muda sekarang belum siap. Entah karena pernikahan terlalu dini, financial yang masih kurang, ataupun karena perihal Kesehatan,” ungkapnya.

Sosialisasi tentang pentingnya menjaga asupan gizi anak untuk mencegah stunting itu, dihadiri pula oleh Kepala Dinas P3AKB Kota Semarang Dr. Lilik Faridah, MM  dan Tenaga Ahli Anggota Komisi IX DPR RI, Tuti Nusandari Roosdiono, yaitu Sis Budiyono dan tamu undangan yang terdiri dari berbagai elemen nasyarakat.

Absa