blank
Proses produksi tempe merugi akibat mahalnya harga kedelai di pasaran dunia. Foto: hana eswe.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Harga kedelai impor di Kabupaten Kudus terus melambung dan menyentuh Rp 13.900 per kilogram. Harga ini merupakan rekor harga tertinggi yang terjadi di tahun ini.

Kondisi ini tentu sangat dikeluhkan bagi para pengrajin tahu tempe. Mereka harus berpikir keras agar bisa tetap produksi namun tidak merugi.

Ketua Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Maruf mengatakan harga kedelai impor yang menembus Rp 13.900 per kilogram memang yang tertinggi di tahun ini.

Bahkan harga tersebut berpotensi terus naik jika melihat kondisi ekonomi global yang ada saat ini.

“Dalam sebulan ini harga terus melonjak tanpa terkendali,”ujar Amar Maruf, Kamis (27/10).

Amar mengatakan meski harga melambung, namun stok kedelai impor yang ada di gudang Primkopti masih cukup aman yakni berkisar 40-45 ton. Jumlah stok tersebut diyakini masih bisa memenuhi kebutuhan produsen tahu tempe dalam beberapa hari terakhir.

“Untuk stok tidak masalah, tapi harganya yang cukup membuat pusing pengusaha tahu tempe,”tandasnya.

Amar menyebutkan, kenaikan harga kedelai ini memang menjadi tekanan tersendiri bagi pengusaha tahu tempe. Mereka harus berusaha sekuat tenaga beradaptasi dalam menyikapi kenaikan harga bahan baku ini.

“Ya sebisa mungkin adaptasi seperti mengurangi ukuran atau menaikkan harga jual tahu tempe,”paparnya.

Amar menambahkan, saat ini pengusaha tahu tempe hanya bisa mengandalkan campur tangan pemerintah yakni dengan adanya subsidi harga kedelai.

Menurut Amar, saat ini subsidi harga kedelai tahap kelima sudah kembali dikucurkan untuk bulan Oktober-Desember.

“Ya saat ini hanya tinggal mengandalkan subsidi harga saja,”paparnya.

Subsidi harga kedelai tersebut senilai Rp 1000 per kilogram. Subsidi tersebut dihitung dari jumlah pembelian kedelai pengrajin dari Primkopti.

Ali Bustomi