blank

Oleh : Ari Mustikawati

Mata pelajaran Fisika merupakan  salah satu mata pelajaran yang kurang disukai peserta didik. Mereka menganggap mata pelajaran ini sulit banyak angka dan perhitungan yang rumit. Bahkan kemudian mereka merasa takut dengan mata pelajaran fisika yang dihadapi dan beranggapan bahwa fisika itu sulit. Akibatnya banyak peserta didik yang mengeluh kesulitan dalam memahami konsep fisika hingga hasil belajar fisika yang rata-rata masih rendah.

Setiap memasuki materi baru,  guru mata pelajaran IPA ( Fisika ) pada khususnya, harus mengawali  pertemuan dengan  menerangkan konsep secara mendalam kepada siswa. Pada saat memasuki fase inilah seringkali guru menemui permasalahan yaitu kurangnya aktivitas dan perhatian siswa untuk belajar. Tentu jika dibiarkan  terus menerus akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar di depannya nanti.

Permasalahan yang ditemui pada kelas belajar Fisika di SMA Negeri 1 Purwodadi Grobogan ini menjadi latar belakang penulisan artikel sehingga ditemukan alternatif solusi pemecahan masalah.

Selama ini pembelajaran Fisika hanya dilakukan dengan cara memberikan penjelasan tentang materi lalu siswa diminta mengerjakan soal yang diberikan sebagai alat evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan.

Tentu saja hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan tujuan belajar yang dari awal kita tetapkan. Lagipula kegiatan belajar seperti ini menyebabkan kejenuhan bagi siswa di dalam kelas. Karena perlu diterapkan  strategi yang tepat agar tercapai tujuan yang diharapkan.

Guru tidak boleh hanya berorientasi pada hasil tes yang tinggi, akan tetapi guru harus menciptakan proses pembelajaran yang bermakna, sehingga pemahaman materi akan jauh lebih lama diingat oleh siswa. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang  (Burhanuddin, 1996).

Keadaan yang ideal tersebut tidaklah mudah untuk dicapai karena keberhasilan pembelajaran harus diupayakan semaksimal mungkin, misalnya dengan metode yang tepat stategi yang sesuai, sarana yang memadahi dan lain sebagainya.

Dilain pihak tingkat kecerdasan, serta karakter siswa yang berbeda-beda juga sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Hal ini tergambar dari salah satu kelas yang diampu penulis di sekolah ini.

Salah satu cara pemecahan masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran tutor sebaya. Apabila model ini diterapkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, siswa dimungkinkan akan merasa terbantu karena akan memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi siswa untuk membangun pengetahuannya selama di dalam kelas.

Di dalam pembelajaran ini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing, artinya guru hanya melakukan intervensi ketika benar-benar dibutuhkan peserta didik dan memotivasi peserta didik untuk aktif belajar.

Dengan menggunakan metode tutor sebaya diupayakan tidak ditemukan lagi siswa yang pasif, kurang percaya diri, dan akhirnya proses kegiatan pembelajaran menjadi lebih dinamis.

Tutor sebaya adalah metode pengajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau ketrampilan pada siswa yang lain (Makarao :2009). Siswa pasif karena kurang banyak mendapat kesempatan dalam berinteraksi dengan temannya.

Dalam penerapan tutor sebaya peserta didik dilatih untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Metode pembelajaran tutor sebaya ini mempunyai tujuan penting dalam kelompok, dapat melatih tanggung jawab individu dan memberikan pengajaran kepada peserta didik untuk saling membantu satu sama lain dan saling mendorong untuk melakukan usaha yang maksimal.

Dengan mempertimbangkan teori yang melandasi dan didukung dengan strategi belajar yang sesuai, maka digunakan metode tutor sebaya sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.

Prinsip-prinsip pembelajaran dengan metode ini  yaitu melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Metode ini menekankan pada pengalaman siswa secara langsung yang berkenaan dengan kompetensi yang harus dikuasai; menyediakan pendekatan multi sensori bagi siswa ketika berlangsung pembelajaran, seperti mendengar, merasa dan mencipta objek-objek yang dipelajari. Juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan menggunakan material dan melakukan eksplorasi cara bertindak dan memberikan gagasan.

Kesimpulannya, melalui metode tutor sebaya dalam kelompok belajar di dalam kelas, akan membantu peserta didik yang kurang mampu agar mudah memahami pelajaran, peserta didik yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.

Dalam hal ini tutor maupun yang ditutori sama mendapatkan keuntungan. Bagi tutor akan mendapatkan pengalaman, sedangkan yang ditutori akan lebih mudah dalam menerima pelajaran. Selamat mencoba.

Penulis adalah guru SMA Negeri  1 Purwodadi