blank
Buku Kitab Berjalan, Sosok KH Idris Kamali, karya Drs H Cholidy Ibhar MA yang terbit pada 2019.(Foto:SB/Facebook)

Oleh Drs H Cholidy Ibhar MA

JIKA diberi nama konsep belajar yang dapat mengantarkan semua santrinya menjadi kiai : konsep nyantri ala Kiai Idris Kamali.
Ini kisah nyata yang terjadi di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Semua santri KH Idris Kamali menjadi kiai sepulang ke rumahnya masing-masing. Kok bisa ? Ternyata harus ditelusuri lewat model atau cara mengajarnya.

Setiap santri kiai Idris wajib puasa Senin-Kamis, harus jama’ah lima waktu di shof awal, wajib sholat malam, menghafal seperi kitab Al Ajrumiyah, Al ‘Imrithi, Alfiyah. Pun wajib mengikuti musyawarah kitab. Di bulan RFamadan, santrinya baru diperkenankan pulang usai Shalat Id.

Sosok kiai Idris sendiri, beliau hafal Al Qur’an, hafal semua kitab yang diajarkan. Beliau lahir di Makkah, santri dan sekaligus menantu KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng.

Dua tahun saya sempat setoran al Amstilatus Tashrififah (Shorof karangan Kiai Ma’shum) kepada Kiai Idris Kamali bersama santri lain yang setor hafalan Jurmiyah, Imrithi dan Alfiyah di serambi Masjid Tebuireng) .

Buku Kiai Idris Kamali saya tulis sebagai buku biografi tokoh Islam. Sebagai hasil pergulatan dengan beliau. Terbit tahun 2019. Tidak terlalu tebal, sekitar 120 halaman. Isinya hasil renungan dan keterlibat saya pribadi sebagai murid atau santri sang menantu Hadratus Syaikh tersebut.

Ada yang terpenting dari ajaran KH Idris Kamali. Pertama, metoda belajar beliau, serba harus hafal ! Semua kitab standard harus hafal. Kedua, catat ! Semua santri yang mengikuti metode beliau jadi kiai atau alim.

Penulis dosen senior IAINU Kebumen, lulusan Pondok Pesantren Tebu Ireng dan perah menjadi editor buku Prof Dr Martin van Bruinessen saat belajar di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

blank
Drs Cholidy Ibhar MA, (Foto:SB/facebook)