Pompa air yang ditempatkan terpisah di pinggir Kali Tajum, Desa Kaliurip supaya bisa langsung menyedot air dari sungai. Foto: Dok/Tim IESR

BANYUMAS (SUARABARU.ID) – Guna memenuhi kebutuhan air irigasi di Desa Kaliurip Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, ada 3 kelompok masyarakat yang didukung Dinas Pertanian Kabupatem Banyumas membangun instalasi PLTS pompa air atau pompa air tenaga surya.

Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas memberikan pendanaan untuk pompa air tenaga surya (APBD 2018). Sedangkan lahan yang digunakan merupakan hibah dari 3 kelompok masyarakat setempat.

Sementara kapasitas terpasang PLTS untuk pompa air ini adalah 44 kilowatt peak (kWp), yang terdiri dari 144 panel surya berkapasitas masing-masing 310 watt peak (Wp).

Pompa air tenaga surya ini mampu mengairi sawah hingga 20 hektar dari pukul 07.00 WIB hingga 16.30 WIB.

Diketahui, sawah dan ladang yang berada di sepanjang aliran Kali Tajum milik para petani di Desa Kaliurip ini lebih tinggi dari permukaan Kali Tajum. Pada musim penghujan, suplai air sangat melimpah, para petani tidak bingung akan kebutuhan pengairan dari saluran irigasi untuk mencukupi akan kebutuhan air sawahnya.

Namun saat musim kemarau, para petani ini harus berpikir keras, bagaimana harus memenuhi agar sawah garapannya tidak kekurangan air. Karena, suplai air dari saluran irigasi tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan sawah dan ladangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air agar sawahnya tetap bisa panen, para petani pun akhirnya hanya mengandalkan aliran air di Kali Tajum.

Namun karena permukaan Kali Tajum yang sangat rendah, mereka harus menaikkan air dari Kali Tajum dengan pompa air berbahan bakar minyak. Selama bertahun-tahun para petani ini mengandalkan bahan bakar minyak.

Seiring berjalannya waktu, dengan menyedot air menggunakan pompa berbahan bakar minyak, para petani ini merasakan berat akibat harga minyak makin mahal.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko bersama Kepala Desa Kaliurip, Kitam Sumardi saat memberikan keterangan terkait PLTS kepada awak media. Foto: Ning Suparningsih

Kepada awak media tim Jelajah Energi Jawa Tengah, Rabu (29/6/2022), Kepala Desa Kaliurip, Kitam Sumardi menjelaskan, saat ini biaya yang dibutuhkan untuk mengairi sawah seluas 700 meter persegi adalah Rp 25.000 per jam.

Untuk sawah seluas 700 meter persegi, minimal empat jam pengairan. Jadi sekitar Rp 100.000 untuk menyedot air selama empat jam. Jika dihitung berapa hari, tergantung kebutuhan dan berapa luasnya tinggal dikalikan.

Untuk itu, para petani mencoba mencari solusi lain agar air dari Kali Tajum terus bisa dialirkan ke sawah dan ladang saat musim kemarau, dengan biaya murah.

“Setelah melalui berbagai upaya dan perjuangan warga, mereka akhirnya mendapat pendanaan untuk pembangunan instalasi pompa air bertenaga listrik, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas (dana APBD 2018),” jelas Kitam.

Pemerintah Desa Kaliurip juga menganggarkan dana hampir Rp 60 juta untuk membuatkan saluran intake di Kali Tajum serta pipa untuk mengalirkan air ke sistem irigasi.

Kehadiran pompa air bertenaga listrik dari PLTS ini mampu menggeser pompa air berbahan bakar minyak yang diandalkan sebagian petani.

Para petani yang lahannya mendapat jatah air dari pompa air bertenaga listrik dari PLTS hanya dibebankan 10 kilogram gabah untuk setiap 700 meter persegi jika sudah panen. Jika harga gabah Rp 4.000 per kilogram, petani yang memiliki luas lahan 700 meter persegi itu hanya dibebankan setara uang tunai Rp 40.000 setiap panen.

Warjo, salah seorang petani pengguna PLTS mengatakan, sebelum ada pompa air bertenaga PLTS saat musim kemarau harus menyedot air dengan pompa berbahan bakar minyak sebanyak lima sampai tujuh kali dari mulai proses penggarapan sampai panen.

Dengan adanya pompa air bertenaga listrik dari PLTS, dia mengaku kebutuhan air untuk sawahnya seluas 3.000 meter persegi saat musim kemarau tercukupi.

Sementara itu Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko menyebut kapasitas yang terpasang PLTS itu sangat besar.

Menurutnya, jika hanya untuk menggerakkan pompa air saja sudah lebih dari cukup. Bahkan ada sisa daya yang belum dimanfaatkan masih besar

“Energi listrik yang dihasilkan PLTS untuk pompa air sangat melimpah, perlu dioptimalisasi supaya pemanfaatannya dapat maksimal,” kata Sujarwanto.

Menurutnya, strategi optimalisasinya dengan menambah pompa dan membangun bak penampung untuk mengumpulkan air. “Jika sekarang mampu mengaliri 20 hektare lahan, dengan optimalisasi bisa meningkat hingga dua kali lipat,” tukasnya.

Sujarwanto menegaskan, bahwa pemanfaatan PLTS untuk pompa air menjadi salah satu bagian untuk mewujudkan desa mandiri energi.

Selain itu, pompa air bertenaga listrik dari PLTS ini bisa menjadi daya tarik lain yang bisa dikembangkan menjadi desa kawasan wisata, karena Desa Kaliurip ini memiliki pemandangan yang indah, jadi perlu dimanfaatkan.

Sementara itu Program Manager Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR) Marlistya Citraningrum menambahkan, energi surya bisa dimanfaatkan untuk sektor-sektor produktif termasuk sektor pertanian.

“Pemanfaatan pompa air tenaga surya ini mudah direplikasi di daerah-daerah pertanian yang membutuhkan air, dan bisa dikolaborasikan dengan berbagai pihak,” kata Citra.

Menurut Citra, PLTS pompa di Desa Kaliurip ini memberikan contoh masyarakat yang berdaya dan mau bergotong royong, bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan air untuk kebutuhan bersama.

Ning Suparningsih