blank
Acara sosialisasi dan identifikasi potensi Desa Wisata di Sukoharjo Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) Wonosobo Agus Wibowo mengatakan mengutip pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga S Uno bahwa industri kreatif dan destinasi wisata merupakan dua hal yang saling berpengaruh.

“Ekonomi kreatif dan dunia pariwisata harus saling bersinergi. Sehingga dibutuhkan upaya kreatif dalam menggelola keduanya,” ujar dia dalam acara “Sosialisasi dan Identifikasi Kawasan Pedesaan” di Pendopo Kecamatan Sukoharjo Wonosobo, beberapa waktu yang lalu.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dispartsbud memaparkan point-point penting terkait pemajuan pariwisata di daerah pedesaan. Di Wonosobo terdapat 55 desa wisata rintisan, 15 di antaranya tengah didorong untuk naik level menjadi desa wisata berkembang yang punya keunikan masing-masing.

“Selama ini terdapat beberapa faktor yang membuat sektor kepariwisataan di pedesaan masih sulit untuk berkembang. Salah satunya adalah kurang ada pemahaman pentingnya sentuhan ide-ide kreatif sebagai komponen mendukung keberadaannya sektor kepariwisataan,” cetusnya.

Kondisi hari ini, menurut Agus, memperlihatkan ekonomi kreatif dan dunia pariwisata masih dianggap sebagai dua sektor yang berbeda. Padahal tanpa adanya dukungan sektor kuliner, souvenir, branding dan promosi khusus bagi sektor wisata, kepariwisataan tentunya akan berjalan di tempat.

“Di samping itu, perlu pemikiran kreatif yang melahirkan berbagai inovasi guna menonjolkan keunikan lokal yang berpotensi besar menarik wisatawan. Semua itu merupakan buah pemikiran dari ide kreatif,” kata Agus.

Membangun industri kreatif di dunia pariwisata, lanjutnya, adalah menciptakan kreasi pada wujud produk dari pemanfaatan sumberdaya lokal yang menunjang sektor pariwisata. Karena pariwisata adalah market potensial produk ekonomi kreatif.

Butuh Pendampingan

blank
Kepala Dispartabud Wonosobo, Agus Wibowo, ketika menyampaikan materi. Foto : SB/Muharno Zarka

Lebih lanjut, ditekankan perlu adanya manajemen pengelolaan yang terstruktur serta memiliki legalitas. Hal tersebut dilakukan melalui pembentukan Pokdarwis, pengajuan SK Bupati untuk desa wisata dan adanya kelembagaan pengelola.

“Apabila destinasi wisata sudah termanajemen dengan baik tentunya akan memudahkan pengelola wisata. Pengelolaan pariwisata akan berjalan dengan profesional. Terakhir, pastikan terpenuhinya aspek pariwisata yang memenuhi kebutuhan pengunjung,” tutur Agus.

Kepala Desa Kajeksan, Tri Silo menyampaikan bahwa secara kelembagaan, Pokdarwis di desanya sudah ada. Namun butuh dampingan dari banyak pihak, utamanya Dispartabud dan Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM setempat.

“Kami ada objek wisata Tubing Sungai Sanggaluwang. Pernah ramai di awal-awal. Namun sekarang lambat laun menjadi sepi. Kami berharap ada pendampingan di desa kami dalam membangun wisata desa, agar bisa survive dan lebih baik lagi”, pintanya.

Sementara itu, Kades Sukoharjo Kabul Pradoyo mengatakan ide Desa Sukoharjo sebagai terminal wisata, akan dikembangkan dan sudah dipetakan untuk setting kawasan wisata.

“Seperti Gardu Pandang Mergosari, Kolam Renang Raganala, Bukit Sikupel Gunungtugel, Tubing Kajeksan, Kuliner Salak Pondoh Kupangan dan Pucungwetan,” ungkap dia.

Dari enam 6 desa tersebut bersepakat untuk mengupayakan kawasan wisata pedesaan dan agropolitan di Wilayah Kecamatan Sukoharjo.
Keenam desa tersebut mempunyai beberapa destinasi wisata yang berbeda-beda. Baik itu destinasi wisata alam maupun buatan.

Muharno Zarka