blank
Salah satu adik Mbak Tun melayani pembeli di warungnya, hari ini. Foto: eko

Lebih elok lagi, warung itu dikelola oleh keluarga Mbak Tun. Suaminya, Sugiyono, Setiap pagi membuka warung. Lalu yang memasak dan melayani konsumen adalah adik-adiknya. Warung tradisional itu dikelola keluarga dengan akrab. Terdiri Solikatun (55), Zulaikha (53), nomor tiga Romlah (50), Narti (48), dan nomor lima Na’imah (35).

Tarifnya juga tergolong tidak mahal. Nasi dan lauk bebas mengambil sendiri. Lauknya bebas memilih. Namun bagi konsumen yang minta dilayani juga akan dilayani sesuai permintaan.

Konsumen di warung itu tidak hanya penduduk dan petani bibit tanaman setempat. Tetapi juga banyak konsumen luar kota dengan mobil mewah. Kamis pagi 26 Mei 2022 ada sepasang suami istri yang menyempatkan datang dari Yogyakarta. “Saya tahu warung ini dari teman-teman,” katanya.

Jangan khawatir bakal kehabisan tempat. Kalau ruang depan penuh, bisa saja lesehan di belakang warung. Bahkan di sana ada Pasar Desa Ngampeldento. Konsumen yang makan di sana sekalian bisa berbelanja kebutuhan aneka sayuran.

Agar tidak penasaran, silahkan coba Warung Sego Welut Pancar. Dari Salaman ke arah utara sekitar tujuh kilometer. Dalam perjalanan bisa menyaksikan hamparan Gunung Sumbing yang elok dan hijauan sawah.

Eko PriyonoÂ